Persaingan di skuad sekarang bukan lagi soal nama besar atau reputasi lama. Tapi kontribusi nyata, hari ini, di lapangan.
Menariknya, pelatih kepala Andri Ramawi justru tak khawatir dengan gesekan-gesekan tadi.
“Ini hal yang normal,” ujarnya usai latihan, sambil memperhatikan anak asuhnya berhamburan ke pinggir lapangan.
“Ada momen biasa, ada juga yang tensi tinggi. Itu lumrah dalam tim yang sedang berjuang.”
Bersama direktur teknik Angel Alfredo Vera, ia memantau setiap detail. Setiap keputusan untuk starting line up nanti akan dipertimbangkan matang. Justru dari ketegangan itu, Andri melihat sesuatu yang positif: kompetitivitas. Setiap pemain berusaha mati-matian menunjukkan bahwa dirinya pantas main sejak menit pertama.
Laga di Balikpapan nanti jelas bukan tugas mudah. Bermain di kandang lawan selalu punya tantangan ekstra. Tapi bagi Mahesa Jenar, meraih hasil maksimal di sana bisa jadi titik balik musim ini.
Zona degradasi itu bukan cuma angka di tabel. Ia ancaman nyata buat stabilitas klub. Mungkin karena itulah latihan tadi sampai begitu memanas. Itu bukan sekadar ledakan emosi sesaat, tapi cerminan dari kesadaran kolektif. Musim ini belum aman. Masih panjang.
Intinya, PSIS bukan cuma berlatih untuk menang. Mereka berlatih untuk bertahan. Dan di balik panasnya tensi internal sore itu, satu hal jelas terlihat: semangat juang mereka belum padam.
Artikel Terkait
Posisi Maarten Paes di Ajax Terancam Usai Klub Incar Kiper Baru
Bradl Ungkap Ambisi Marquez: Lampaui Rossi dan Rebut Gelar MotoGP ke-8
Persebaya Raih Kemenangan Tipis Atas PSM, Tavares Fokus ke Laga Berat Lawan Persib
Locatelli: Saya Hampir Menangis Usai Juventus Tersingkir dari Liga Champions