PSM Makassar Krisis Identitas Usai Kalah Ketiga Kali Beruntun

- Rabu, 25 Februari 2026 | 23:30 WIB
PSM Makassar Krisis Identitas Usai Kalah Ketiga Kali Beruntun

PSM sebenarnya ciptakan peluang. Gledson Paixao dan Luka Cumic mencoba. Tapi persoalan lama muncul lagi: penyelesaian akhir yang tumpul. Serangan kerap mandek di sepertiga akhir lapangan. Kreativitas minim, keputusan lambat. Kalau bukan karena aksi apik kiper Reza Arya Pratama, kekalahan bisa lebih telak.

Yang bikin miris, ini lebih dari sekadar krisis hasil. Ini krisis identitas. Dulu, PSM punya struktur jelas: pertahanan rapat, pressing berdisiplin, serangan balik seperti kilat. Sekarang? Permainan mereka terasa reaktif. Hanya merespons, bukan mengendalikan.

Memang, pergantian pelatih dan adaptasi taktik butuh waktu. Tomas Trucha punya pekerjaan rumah besar. Tapi kompetisi tak pernah memberi waktu panjang. Sepak bola modern tak cuma soal taktik, tapi juga momentum psikologis. Dan saat ini, momentum itu jelas-jelas tidak ada di sisi Makassar.

Statistik tak berbohong. Peringkat 13, cuma selisih lima poin dari zona merah. Tiga kekalahan beruntun membuat jarak dengan jurang degradasi makin tipis. Bandingkan dengan Persebaya yang justru bangkit, naik ke posisi lima. Perbedaannya nyata: stabilitas mental dan kejelasan sistem.

Kekecewaan suporter mulai meluap. Kritik keras berhamburan, bahkan ada yang bilang kualitas permainan PSM kini mirip tim Liga 2. Mungkin terdengar ekstrem, tapi itu ungkapan kekecewaan yang wajar. Secara materi pemain, mereka jelas bukan tim kelas bawah. Tapi di lapangan, mereka tak bermain sebagai satu kesatuan yang solid. Serangan tumpul, lini tengah tak dominan, pertahanan kerap kehilangan fokus di momen krusial.

Waktu untuk merenung tak banyak. Ujian berikutnya sudah menanti: Persita Tangerang. Laga ini bisa jadi titik balik, atau justru memperdalam krisis. Bagi Trucha, ini lebih dari sekadar perebutan tiga poin. Ini soal membuktikan bahwa timnya masih punya nyali di kasta tertinggi.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar