Peluit panjang itu menggema di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu malam, menutup laga dengan rasa getir bagi PSM Makassar. Mereka tumbang 0-1 dari Persebaya. Tapi, yang lebih mengusik ketimbang skor akhir adalah pertanyaan yang menggantung: ke mana perginya permainan Juku Eja?
Ini sudah kekalahan ketiga beruntun. Posisi mereka di klasemen Super League 2025/2026 pun terpuruk di papan bawah. Situasinya mulai mengkhawatirkan.
Namun begitu, yang bikin para pendukung gelisah bukan cuma poin yang hilang. Cara mereka kalah. Tim ini seperti kehilangan jati dirinya sendiri disiplin, agresif, efisien dalam transisi, semua itu seakan menguap. Yang tersisa adalah bayangan pucat dari tim juara Liga 1 dua musim silam.
Kemenangan jadi barang langka akhir-akhir ini. Satu-satunya cahaya cuma kemenangan atas PSBS Biak. Selebihnya? Stagnan, bahkan menurun. Kekalahan dari Persija Jakarta mungkin masih bisa dicari pembenarannya. Tapi jatuh lagi di Surabaya memperlihatkan pola yang mengganggu: PSM sulit mengendalikan permainan, serangan terbangun lambat, dan momentum selalu berpihak ke lawan.
Ironisnya, di laga ini Persebaya justru tampil dengan filosofi yang dulu jadi ciri khas PSM. Di bawah arahan Bernardo Tavares pelatih yang dulu membangun fondasi kejayaan Juku Eja Anak Bajul Ijo main dengan intensitas tinggi dan pressing disiplin sejak menit pertama.
Gol tunggal Paulo Gali Freitas di menit ke-27 seperti potret sempurna masalah PSM. Itu lahir dari transisi cepat dan penyelesaian klinis, skema yang dulu mereka kuasai. Kini, justru jadi senjata lawan.
Artikel Terkait
Juventus Tersingkir dari Liga Champions Usai Dikalahkan Galatasaray 7-5 Secara Agregat
Inter Milan Masuk Perburuan, Goretzka Jadi Rebutan Arsenal dan Tottenham
Alwi Farhan Buka Opsi Tak Berpuasa Saat All England 2026 Beririsan dengan Ramadhan
Lanny/Apriyani Gasak Wakil UEA, Melaju ke 16 Besar German Open 2026