Sebenarnya, yang diharapkan dari Lowe lebih dari sekadar tugas defensif biasa. Manajemen butuh dia jadi katalis, pengubah mentalitas. Tim papan tengah sering terjebak di zona nyaman tidak terancam degradasi, tapi juga jauh dari puncak. Dengan sisa 14 pertandingan, peluang untuk bangkit masih ada.
“Tujuan saya sederhana, membangun fondasi kuat agar tim bisa bersaing meraih gelar,” kata Lowe tentang misinya.
Kedengarannya ambisius? Memang. Tapi sepak bola butuh keyakinan semacam itu. Tanpa ambisi, mustahil ada perubahan.
Sekarang, semua mata tertuju padanya. Sepak bola Indonesia kini makin kompetitif, tekanan media dan suporter makin besar. Reputasi internasional hanya akan bertahan beberapa pekan awal. Setelah itu, yang bicara adalah konsistensi dan kontribusi nyata di lapangan.
Laga di Parepare nanti akan jadi pembuktian pertama. Bisik-bisik soal masa lalunya menghadapi dua legenda sepak bola dunia akan berhenti. Yang penting adalah, apakah dia bisa membentengi Banten Warriors dari gempuran Juku Eja?
Pada akhirnya, petualangan di MLS atau di timnas Jamaika hanyalah prolog. Babak penting karier Damion Lowe justru dimulai sekarang, di Super League. Di bawah lampu sorot stadion, di tengah teriakan yang memekakkan telinga, dalam setiap tekel dan sundulan yang menentukan.
Kalau dia berhasil mengubah kerapuhan menjadi kekuatan, Dewa United tak cuma dapat pemain bagus. Mereka dapat seorang pemimpin.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Kalah Tipis dari Bulgaria di Final FIFA Series, Verdonk: Kami Tampil Lebih Baik
PSIS Semarang Hajar Persipal 6-1, Keluar dari Zona Degradasi
Tuchel Kecewa, Tapi Pahami Alasan Delapan Pemain Mundur dari Skuad Inggris
Timnas Indonesia Tertinggal dari Bulgaria di Babak Pertama Final FIFA Series