Kuota penuh. Bursa tutup. Tak ada ruang untuk manuver lagi.
Tapi nilai Rp100 miliar tak serta-merta mengakhiri krisis.
Momen di Sleman
Kemenangan 2-1 atas PSBS Biak jadi penawar rasa sesak setelah tujuh laga tanpa kemenangan. Gol Rizky Eka Pratama di menit ke-43 mengubah suasana. Gledson Paixao menggandakan keunggulan sepuluh menit babak kedua lewat skema yang efektif cermin pendekatan baru Tomas.
Gol balasan Ruyery di menit ke-80 bikin deg-degan. Tapi kali ini, PSM bertahan.
Karena absennya Ananda Raehan dan Savio Roberto, Tomas terpaksa meracik ulang tim. Lagator, Luka Cumic, dan Boboev mulai diperkenalkan sebagai energi segar.
Memang belum dominan betul, tapi kehadiran mereka memberi opsi yang sebelumnya tak ada. Lagator bawa ketenangan dalam membaca permainan. Cumic kasih variasi dari sisi lapangan. Boboev tambah intensitas tekanan ke pertahanan lawan.
Secara psikologis, kemenangan di Sleman itu penting. Ia memutus rantai buruk dan mengembalikan secuil kepercayaan diri di ruang ganti.
Nilai skuad boleh saja mendekati Rp100 miliar.
Sebelas pemain asing sudah lengkap.
Masalah administrasi beres.
Tapi musim ini belum berakhir.
Lagator diharap jadi jangkar. Boboev diharap jadi pemecah kebuntuan.
Di Makassar, sepak bola bukan cuma soal taktik. Ia menyangkut siri’ na pacce harga diri dan rasa solidaritas.
Dan dalam musim yang terasa limbung begini, satu kemenangan bisa jadi awal cerita yang sama sekali baru.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026