MAKASSAR Ada perubahan menarik di bursa harga pemain lokal PSM Makassar. Menjelang paruh kedua kompetisi, papan atas daftar termahal Juku Eja dihajar kejutan. Siapa lagi kalau bukan Victor Dethan, wonderkid yang nilainya melesat dan menyalip para senior.
Namun, di balik sorotan pada Dethan, ada cerita lain yang kurang sedap. Reza Arya Pratama, sang kiper andalan Timnas Indonesia, justru mengalami tren sebaliknya. Nilai pasarnya anjlok cukup signifikan dibandingkan catatan di putaran pertama.
Menurut pantauan Transfermarkt, nilai Victor Dethan sekarang menyentuh Rp3,91 miliar. Angka itu membuatnya sejajar dengan veteran seperti Akbar Tanjung. Padahal, di awal musim, posisi puncak itu dipegang Akbar bersama Rizky Eka Pratama.
Lantas, kenapa Dethan dianggap lebih berharga? Usia jadi faktor kunci. Pemain berdarah Kanada itu masih 21 tahun, sementara Akbar sudah menginjak 32. Potensi jualnya jelas lebih tinggi.
Yang luar biasa, kenaikan nilainya memang fantastis. Dari sebelumnya Rp3,04 miliar, dia melompat hampir Rp900 juta hanya dalam satu putaran. Performanya di sayap sebagai motor serangan kian matang, dan pasar jelas memperhitungkan itu.
Nasib Kontras Sang Kiper Timnas
Sementara Dethan merayakan kenaikan, Reza Arya harus gigit jari. Pasca operasi yang dijalaninya musim lalu, konsistensinya agak naik-turun. Kiper yang dulu jadi tumpuan utama ini kini melihat nilai pasarnya merosot ke Rp2,61 miliar.
Padahal, di putaran pertama, angkanya masih tegak di Rp3,04 miliar. Penurunan ini diduga kuat karena persaingan di bawah mistar yang makin ketat.
Justru Hilman Syah, yang kembali mengambil alih posisi kiper utama, nilainya naik jadi Rp3,48 miliar. Sebuah kenaikan yang kontras dengan nasib Reza.
Fluktuasi Harga: Ada Apa di Baliknya?
Melihat data putaran pertama dan kedua, beberapa pola menarik terlihat. Kenaikan Victor Dethan, misalnya, menunjukkan betapa pasar sangat menyukai pemain muda yang produktif. Ketika menit bermainnya reguler dan kontribusi gol atau assist tinggi, nilai jualnya bisa melambung cepat, mengalahkan senior sekalipun.
Kasus Reza Arya dan Hilman Syah adalah contoh klasik pergeseran hirarki. Saat seorang pemain kehilangan status starter mutlak, nilainya cenderung terkoreksi. Sebaliknya, yang naik daun otomatis harganya ikut naik.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026