Misteri Gelondongan Kayu yang Terbawa Banjir Bandang Sumatera

- Selasa, 02 Desember 2025 | 14:40 WIB
Misteri Gelondongan Kayu yang Terbawa Banjir Bandang Sumatera

Banjir bandang yang melanda Sumatera Utara dan Sumatera Barat baru-baru ini ternyata membawa 'barang' tak terduga. Bukan hanya lumpur dan puing, tapi juga tumpukan gelondongan kayu yang ikut hanyut deras. Kehadiran kayu-kayu itu langsung memantik pertanyaan besar: dari mana asalnya?

Brigjen Mohammad Irhamni, Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, mengaku pihaknya sudah turun tangan menyelidiki. "Sedang penyelidikan," ujarnya singkat saat dikonfirmasi Selasa lalu.

Meski begitu, Irhamni belum bisa memastikan asal-usul kayu tersebut. "Belum tahu asalnya, ya," katanya. Namun begitu, dia menegaskan bahwa proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap fakta sebenarnya.

Gunungan kayu yang tersebar di permukiman hingga pesisir pantai itu juga menarik perhatian anggota DPR. Situasinya jadi makin rumit.

Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan punya dugaan awal. Menurut Dirjen Penegakan Hukum Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, kayu-kayu gelondongan itu kemungkinan besar berasal dari pemegang hak atas tanah (PHAT) di area penggunaan lain (APL).

"Kita deteksi bahwa itu dari PHAT di APL," jelas Dwi, seperti dilansir Antara.

Dia menduga, kayu tersebut adalah bekas tebangan yang sudah lapuk, lalu terseret arus banjir. Secara administrasi, kayu dari area seperti itu seharusnya tercatat dalam sistem SIPPUH. Tapi, Dwi juga tak menampik kemungkinan lain. Praktik ilegal, kata dia, tetap mustahil diabaikan begitu saja.

Bencana yang tak hanya merenggut nyawa ini sungguh memilukan. Data terakhir menyebutkan 659 orang meninggal dunia, sementara sekitar satu juta lainnya terpaksa mengungsi. Dan di tengah duka yang masih menyelimuti, misteri gelondongan kayu itu tetap menggantung, menunggu jawaban yang jelas.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar