Suasana di Anfield, Minggu malam itu, tegang. Manchester City, yang tertinggal sejak menit ke-74, tampak terpojok. Namun, dalam enam menit terakhir yang benar-benar dramatis, segalanya berbalik. Bernardo Silva dan Erling Haaland menjadi pahlawan dengan gol-gol telat mereka, membawa City meraih kemenangan 2-1 atas Liverpool. Hasil ini bukan sekadar tiga poin; ini adalah pernyataan. Asa juara mereka, yang sempat redup, kembali menyala terang.
Kemenangan tandang ini punya makna historis. Untuk pertama kalinya dalam 89 tahun, City berhasil mengalahkan Liverpool baik di kandang maupun tandang dalam satu musim liga yang sama. Jarak mereka dengan Arsenal di puncak klasemen pun terpangkas jadi enam poin. Momentum kini berpihak pada warga Etihad.
Peluang untuk semakin mendekat terbuka lebar. Rabu nanti, City akan menjamu Fulham. Kemenangan akan membuat selisih poin dengan sang pemuncak tinggal tiga, sementara Arsenal baru akan bertanding sehari kemudian melawan Brentford. Peta persaingan bisa berubah drastis dalam hitungan hari.
Di ruang konferensi pers, Pep Guardiola terlihat lega, tapi sama sekali tidak terbuai. Dia tahu perjalanan masih panjang.
Guardiola dengan sigap menyoroti kompleksitas sisa musim. Jadwal yang padat, risiko cedera, dan tekanan di setiap laga adalah realitas yang harus dihadapi semua tim papan atas.
Dia juga mengingatkan bahwa Arsenal tidak hanya berhadapan dengan mereka. Menurutnya, banyak tim di liga ini punya motivasi kuat sendiri, entah untuk berebut tempat Eropa atau sekadar bertahan. Itu membuat setiap pertandingan menjadi medan perang yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026