PSM Makassar Hadapi Laga Penentu Nasib di Sleman Lawan PSBS Biak

- Minggu, 08 Februari 2026 | 10:00 WIB
PSM Makassar Hadapi Laga Penentu Nasib di Sleman Lawan PSBS Biak

Bagi PSM Makassar, lawatan ke Stadion Maguwoharjo, Minggu (8/2/2026) nanti, jelas bukan urusan tiga poin biasa. Lebih dari itu. Ini soal nyawa. Pasukan Ramang datang ke Sleman dengan misi tunggal: mengamankan tempat mereka di kasta tertinggi Super League 2025/2026. Bayang-bayang tujuh laga tanpa kemenangan lima kekalahan dan dua hasil imbang masih terasa mengganggu. Posisi mereka di peringkat 13 dengan 20 poin belum cukup nyaman, masih terlalu dekat dengan jurang degradasi. Singkatnya, laga melawan PSBS Biak ini adalah barometer nyata.

Namun begitu, ada beberapa alasan yang membuat PSM sedikit lebih diunggulkan. Pertama, sejarah pertemuan. Dalam tiga duel terakhir, Juku Eja tak pernah kalah dari PSBS, dengan catatan dua menang dan satu seri. Rekor itu tentu memberi suntikan kepercayaan untuk Yuran Fernandes dan kawan-kawan.

Kedua, soal lokasi. PSBS memang harus bermain jauh dari kandang aslinya di Papua. Sepanjang musim mereka bermarkas di Maguwoharjo, sehingga atmosfer ‘kandang’ yang sesungguhnya tak akan tercipta. Tekanan dari suporter fanatik Biak pun bisa dibilang berkurang.

Faktor ketiga mungkin yang paling krusial: kondisi internal PSBS sendiri. Klub promosi ini sedang dilanda masalah keuangan dan terkena FIFA Registration Ban. Mereka terkena enam sanksi, yang artinya mustahil mendatangkan pemain baru di putaran kedua. Sementara klub lain memperkuat diri, PSBS terpaku dengan skuad lama. Momentum seperti ini jelas tak boleh dilewatkan PSM.

Meski punya modal, bukan berarti jalan PSM mulus. Performa tim yang naik-turun masih jadi pekerjaan rumah berat. Menurut jurnalis senior Sulawesi Selatan, M. Dahlan Abubakar, adaptasi di bawah pelatih anyar Tomas Trucha belum berjalan sempurna.

“Mungkin Tomas Trucha belum menemukan format yang pas. Hampir di setiap laga selalu ada pemain inti yang absen karena akumulasi kartu atau sanksi,” ujarnya.

Pendapat serupa datang dari mantan pelatih PSM, Syamsuddin Umar. Dia menilai identitas permainan yang dulu dibangun mulai memudar.

“PSM sebenarnya sudah punya kekuatan taktik. Tapi belakangan ini identitas itu seolah hilang. Mental dan chemistry harus diperkuat kembali,” tegas Syamsuddin.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar