Lalu dia melanjutkan, "Begitupun jika kita memilih kekuatan, keragaman pemain lokal kita dengan pemain diaspora, dan bagaimana kita saling berbagi serta memahami latar belakang masing-masing, nilai mereka, kekuatan mereka, jadi ini tentang kita melawan mereka (tim lawan). Bukan kita melawan diri sendiri."
Di sisi lain, Herdman menekankan bahwa peran kepemimpinan dan dukungan publik adalah kunci lain yang tak kalah vital. Dia menyebut energi dari lebih dari 280 juta penduduk Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan tim ini ke depan.
"Kami harus merangkulnya secara kolektif nilai dari 280 juta orang. Itu bagian dari perjalanan ini," jelasnya. "Jadi keragaman menjadi kekuatan kita ketika kita memilihnya untuk menjadi kekuatan kita. Dan kepemimpinan saya akan membantu mereka memilih kekuatan."
Agenda di depan mata pun sudah menanti. Herdman langsung disibukkan dengan persiapan menghadapi serangkaian turnamen. Pada Maret 2026 mendatang, Indonesia akan menjadi tuan rumah FIFA Series, menjamu Bulgaria, Kepulauan Solomon, serta Saint Kitts dan Nevis.
Itu baru permulaan. Setelahnya, masih ada Piala AFF yang digelar Juli-Agustus 2026, dan tentu saja puncaknya: Piala Asia 2027. Tantangan berat, tapi bagi Herdman, semuanya bermula dari bagaimana membangun fondasi tim yang solid dari keragaman yang ada.
Artikel Terkait
Anfield Bergemuruh, Liverpool dan Newcastle Berebut Tiket Liga Champions
Harapan Ana/Trias di Thailand Masters Pupus di Tangan Ganda China
Persebaya Siap Hantam Dewa United dengan Senjata Kolektif
Guardiola Bicara Gaza di Barcelona: Kita Telah Meninggalkan Mereka Sendirian