Sorotan pada Yuran bukan cuma soal teknik bertahan. Lebih dari itu, ini soal pengaruhnya di ruang ganti. Sebagai pemimpin, sikap dan performanya bisa menentukan atmosfer seluruh tim.
“Kami berharap manajemen dan pelatih ngobrol baik-baik dengan Yuran. Jangan sampai pemain lain masih semangat, tapi lihat kaptennya setengah hati, akhirnya ikut drop,” tambah Sulyadi.
Kekhawatiran itu punya dasar. Dalam situasi krisis, figur pemimpin seharusnya jadi penopang, bukan sumber keraguan.
Soal Profesionalisme dan Kontrak
Pengamat sepak bola nasional Syamsuddin Umar punya pesan keras. Baginya, profesionalisme adalah harga mati.
“Siapa pun pemainnya, kalau sudah terikat kontrak, kewajiban harus dijalankan sepenuh hati. Tidak boleh setengah-setengah,” ujarnya.
Menurut Syamsuddin, jika ada masalah di luar lapangan, komunikasi adalah jalurnya. Bukan penurunan performa.
“Kalau ada yang tidak sesuai, bicarakan. Jangan sampai merugikan klub dan performa tim,” tegas mantan pemain PSM itu.
Ia juga menekankan peran manajemen harus lebih peka. “Semua dinamika di ruang ganti harus dikendalikan. Target tim harus tetap jadi prioritas,” tambahnya.
Belum Cukup Satu Perkuatan
Selain bek tengah, PSM ternyata masih memburu bek kanan. Nama Todor Todoroski memang masih mengambang, tapi negosiasinya dikabarkan belum menemui titik terang.
Jadi, kedatangan Lagator saja belum cukup. Tapi setidaknya, itu bisa jadi titik balik. Sekaligus pesan keras: tidak ada posisi yang aman jika performa terus merosot.
Di bawah tekanan suporter dan posisi klasemen yang mencemaskan, PSM Makassar jelas tak punya waktu lagi untuk bermain-main. Baik di lapangan hijau, maupun di meja negosiasi.
Artikel Terkait
Verstappen Gagal Total di Sprint Race Shanghai, Red Bull Terpuruk
Media Italia Soroti Idzes dan Audero Jelang FIFA Series 2026
Persib Pererat Hubungan dengan Sponsor Lewat Buka Puasa Bersama
Putri Kusuma Wardani Amankan Tiket Final Swiss Open Usai Kalahkan Nozomi Okuhara