Kembali ke PSM, kebutuhan akan bek tengah baru terasa mendesak kalau kita lihat performa putaran pertama. Pertahanan Juku Eja sering goyah. Bukan cuma karena skema, tapi lebih karena kesalahan individu yang terus berulang. Salah antisipasi, kehilangan konsentrasi, keputusan ceroboh di kotak penalti sendiri semua itu sudah terlalu sering berujung gol.
Di sepak bola modern, apalagi buat tim yang punya ambisi tinggi, kesalahan seperti itu harganya mahal. Kalau tidak diperbaiki, PSM bisa kehilangan poin-poin penting lagi di fase penentuan nanti.
Makanya, kehadiran bek tengah baru itu penting. Bukan cuma sebagai tambal sulam, tapi juga untuk memicu kompetisi internal. Sosok seperti Alberto bisa membawa kepemimpinan sekaligus memberi pesan: tidak ada posisi yang aman jika performa jelek.
Di sisi lain, rencana mendatangkan Todor Todoroski tetap jalan. Bek kanan berusia 26 tahun itu punya profil yang komplet: disiplin bertahan, agresif menyerang, dan mobilitasnya tinggi. Pengalamannya di Eropa Timur menunjukkan kematangannya.
Dia punya ratusan penampilan dan bahkan sempat membela timnas Makedonia Utara. Tapi, sekali lagi, Todoroski cuma satu bagian dari solusi. Tanpa bek tengah yang solid, fondasi pertahanan PSM tetap terlihat rapuh.
Putaran kedua nanti bukan cuma lanjutan kompetisi. Ini adalah ruang koreksi. Kalau PSM Makassar masih mau bersaing dan bertengger di papan atas, manajemen harus berani ambil keputusan strategis.
Mendatangkan bek tengah baru? Itu sudah jadi kewajiban mutlak.
Artikel Terkait
Tavares dan Persebaya: Ketika Stabilitas Klub Melahirkan Performa Gemilang
Persebaya Surabaya: Favorit Terselubung di Tengah Sorotan Persib dan Persija
Persib dan Persija Gaduh, Persebaya Siap Menggigit Diam-diam
Sir Jim Ratcliffe Tarik Michael Carrick di Tengah Wawancara Usai United Bungkam Arsenal