Gyokeres Terjebak di Emirates: Ego Sayap Arsenal Hambat Striker Baru?

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 15:30 WIB
Gyokeres Terjebak di Emirates: Ego Sayap Arsenal Hambat Striker Baru?
Analisis Gyokeres di Arsenal

LONDON Viktor Gyokeres di Emirates Stadium. Ia diharapkan jadi kepingan pamungkas untuk gelar juara Mikel Arteta. Tapi kenyataan? Sama sekali berbeda.

Hingga kini, sang striker Swedia itu masih mandul. Belum ada tanda-tanda ketajaman mengerikan yang ia pamerkan musim lalu bersama Sporting CP. Situasi ini, tentu saja, memicu tanda tanya besar. Apa yang sebenarnya terjadi di lini depan The Gunners?

Reputasi Gyokeres saat datang sungguh mentereng. Dia adalah salah satu penyerang paling produktif di Eropa. Penggemar Arsenal berharap ia membawa dimensi fisik dan naluri membunuh yang selama ini dirindukan. Namun, adaptasinya berjalan lambat. Jauh dari ekspektasi.

Banyak yang bertanya-tanya. Apakah gaya Premier League yang keras jadi penghalang? Atau jangan-jangan, skema permainan Arsenal sendiri yang belum pas untuk memaksimalkan kemampuannya?

Striker yang Terisolasi

Mantan bek Arsenal, Emmanuel Eboue, punya pandangan yang cukup tajam. Menurutnya, masalahnya bukan pada kualitas Gyokeres. Melainkan pada kurangnya dukungan dari kawan-kawan setimnya, terutama dari lini kedua dan para pemain sayap.

Dalam sebuah wawancara, Eboue tak ragu menyebut para pemain sayap Arsenal saat ini terlalu egois. Fokus mereka lebih ke arah mencetak gol sendiri ketimbang melayani sang striker.

“Saya sering memperhatikannya saat masih di Portugal, dia adalah penyerang yang sangat tangguh. Masalahnya di Arsenal, para pemain sayap tidak cukup sering melayaninya. Mereka semua ingin mencetak gol sendiri, padahal ada striker yang tugas utamanya adalah menuntaskan peluang,” tegas Eboue.

Ia lantas mengenang masa keemasan Arsenal di bawah Arsene Wenger. Saat itu, seluruh tim bekerja untuk memanjakan Thierry Henry.

“Henry selalu mengingatkan kami saya, Clichy, Ashley Cole bahwa dia adalah ujung tombak. Tugas kami adalah menciptakan peluang untuknya, bukan sebaliknya. Filosofi itulah yang tampaknya hilang dari permainan Arsenal sekarang,” tambahnya.

Nah, kalau dilihat dari lapangan, ada beberapa faktor teknis yang mungkin jadi biang kerok. Di Sporting, Gyokeres terbiasa mendapat umpan vertikal cepat yang membuatnya bisa berduel satu lawan satu. Gaya main Arsenal yang cenderung menguasai bola dengan ritme lamban justru memberi waktu lawan untuk bersiap dan menutup semua ruang.

Statistik juga bicara. Pemain sayap Arsenal musim ini tercatat lebih sering menembak daripada memberikan umpan silang matang ke kotak penalti. Tanpa servis udara atau umpan tarik yang tepat, Gyokeres akan terus terpenjara di antara badan-badan bek lawan.

Belum lagi tekanan mental. Menjadi “solusi juara” dengan harga transfer fantastis bukan beban ringan. Satu gol pembuka bisa jadi kunci untuk meledakkan kepercayaan dirinya kembali.

Jadi, jalan keluarnya apa? Arsenal perlu mengkalibrasi ulang kerja sama tim. Jika Mikel Arteta bisa mengarahkan para pemain sayapnya untuk lebih banyak melayani, bukan mustahil Gyokeres akan segera meledak. Dan semua keraguan itu akhirnya bisa dibungkam.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar