Bitcoin Rebound Usai Komentar Trump Redakan Ketegangan Minyak

- Rabu, 11 Maret 2026 | 10:15 WIB
Bitcoin Rebound Usai Komentar Trump Redakan Ketegangan Minyak

New York: Selera risiko investor tampaknya kembali muncul di pasar. Hal ini terlihat dari penguatan Bitcoin pada perdagangan Selasa waktu setempat, atau Rabu pagi WIB. Mata uang kripto terbesar dunia itu naik 2,1 persen, menembus level USD 69.869 per koin.

Kenaikan ini cukup signifikan, mengingat posisinya sehari sebelumnya sempat terpuruk. Bitcoin pernah terjun bebas ke area USD 65 ribu dalam 24 jam terakhir. Saat itu, investor seperti berlarian menghindari aset berisiko tinggi. Pemicunya adalah lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global bakal meledak.

Namun begitu, suasana pasar berubah setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyebut perang yang melibatkan Iran mungkin akan segera berakhir. Komentar itu cukup menenangkan pasar keuangan yang sebelumnya terguncang oleh bayang-bayang konflik regional yang berkepanjangan.

"Situasi ini bisa diselesaikan," kata Trump.

Meski begitu, ia juga memberikan catatan. Menurutnya, kemungkinan besar perang tidak akan berakhir dalam minggu ini. Trump bahkan memberi peringatan keras. Ia menyatakan AS akan merespons "20 kali lebih keras" jika Iran mencoba menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global.

Di sisi lain, tekanan dari komoditas energi juga mulai mereda. Harga minyak dunia, yang sempat melonjak mendekati USD 120 per barel pada Senin, akhirnya jeblok. Pada Selasa, harganya turun mendekati level USD 90 per barel. Ini sedikit meredakan kekhawatiran inflasi yang membebani pasar di awal pekan. Wall Street sendiri ditutup sedikit lebih rendah.

Dengan kondisi itu, pasar kripto pun ikut bernafas lega, mengikuti perbaikan sentimen risiko yang lebih luas. Tapi jangan salah, kewaspadaan tetap tinggi. Para trader masih menaruh perhatian penuh pada setiap perkembangan di Timur Tengah, karena gejolak di sana langsung berdampak pada harga komoditas dan suasana hati pasar global.

Kini, fokus investor bergeser ke data ekonomi dalam negeri AS. Mereka menantikan laporan indeks harga konsumen (IHK) untuk bulan Januari yang dirilis Rabu ini. Tak hanya itu, ada juga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk Februar indikator inflasi favorit The Fed yang jadwal rilisnya pada Kamis. Dua data ini bakal jadi penentu arah berikutnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar