SURABAYA – Bernardo Tavares tak main-main. Menghadapi putaran kedua Super League 2025/2026, pelatih Persebaya Surabaya ini melakukan gebrakan besar. Dia merombak total skuad Green Force. Tak tanggung-tanggung, investasi di bursa transfer tembus angka Rp 13,91 miliar. Dan langkah terakhirnya adalah mendatangkan Pedro Matos sebagai kepingan puzzle pamungkas.
Namun begitu, ada harga yang harus dibayar. Untuk memberi ruang bagi wajah-wajah baru, manajemen terpaksa melakukan cuci gudang ekstrem. Enam pemain dilepas, dengan Dejan Tumbas sebagai nama terakhir yang pergi.
Amunisi Baru Bernardo
Persebaya resmi memperkenalkan Pedro Matos, Kamis lalu. Gelandang asal Portugal ini adalah rekrutan asing terbaru. Kedatangannya jelas jadi sinyal. Tavares rupanya ingin kreativitas lebih di lini tengah timnya.
Nilai pasarnya Rp 2,17 miliar. Bukan nama baru di kompetisi domestik. Sebelumnya, pemain 27 tahun ini adalah pilar penting Semen Padang. Dia tampil 15 kali, cetak 1 gol, dan bikin 4 assist.
Lahir di Vila Nova de Gaia, Pedro dikenal serba bisa. Dia bisa main sebagai gelandang serang, gelandang tengah, atau bahkan mengular di sayap kanan. Kelebihannya? Visi bermainnya tajam, distribusi bola rapi, dan punya fleksibilitas taktik yang bagus.
Tavares berharap dia bisa jadi motor serangan baru yang lebih dinamis. Karakternya yang fleksibel itu jelas memberi opsi strategi lebih luas buat sang pelatih.
Reset skuad ini memang gila-gilaan. Pedro Matos melengkapi kuota pemain asing baru untuk putaran kedua.
Secara total, manajemen sudah menggelontorkan dana besar. Rp 13,91 miliar untuk mendaratkan empat pemain kunci. Jefferson Silva dan Gustavo Fernandes masing-masing menelan Rp 4,35 miliar. Striker Bruno Paraíba dibeli seharga Rp 3,04 miliar. Lalu, ada Pedro Matos dengan nilai Rp 2,17 miliar.
Artikel Terkait
Duel Saudara di Istora: Ganda Muda Tantang Senior di Indonesia Masters
Casemiro Pamit dari Old Trafford, Era Gelandang Bertahan Berakhir
Persebaya Geser Persib dalam Perburuan Joey Pelupessy
Pelatih Bulgaria Soroti Ambisi Gila Indonesia: Dari Herdman hingga Mimpi Tuan Rumah Piala Dunia