murianetwork.com - Fluminense, yang dikenal dengan gaya "anti-Guardiola" pelatih mereka, Fernando Diniz, akan menghadapi ujian berat dalam final Piala Dunia Klub melawan Manchester City pada Jumat ini.
Diniz, yang juga sempat menjadi pelatih sementara tim nasional Brasil, telah meraih ketenaran di tanah airnya berkat pendekatan inovatifnya yang mencoba membawa keterampilan sepakbola jalanan ke arena profesional.
"Pep suka memiliki posisi, kebalikan dari saya. Gaya saya bersifat anti-posisional," ujar Diniz ketika ditanya tentang perbandingan dengan Guardiola.
Konsepnya adalah mengelompokkan pemain dalam kelompok kecil, mencoba menciptakan kelebihan jumlah dalam ruang terbatas.
Ketika berhasil, gaya ini mengingatkan orang Brasil pada masa kejayaan "Jogo bonito" di masa lalu. Meskipun Diniz telah meraih sukses dengan metodenya di Fluminense, ada risiko besar terbuka bagi lawan, terutama bagi timnya yang menua.
Al Ahly hampir menghentikan impian Fluminense untuk meraih Piala Dunia Klub pada babak semifinal. Meski akhirnya Fluminense lolos dengan skor 2-0, kemenangan itu berkat penyelamatan gemilang kiper berusia 43 tahun, Fabio, setelah Al Ahly menciptakan 18 peluang.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia U-17 Mulai Seleksi 42 Pemain untuk Persiapan Piala AFF dan Piala Asia 2026
Lefundes Tegaskan Semangat Juang Borneo FC Tak Padam Meski Tersungkur ke Posisi Ketiga
Persija Jakarta Tundukkan Malut United 3-2 dalam Laga Sengit Pekan ke-23 Super League
Inter Milan Tersingkir dari Liga Champions Usai Dikalahkan Bodo/Glimt