Soal ketertarikan Madrid, Klopp mengaku tidak mempermasalahkannya. Tapi ia menegaskan, kabar yang beredar selama ini murni spekulasi media. Tidak lebih.
Terakhir kali dia memegang tim adalah musim 2023/24, membawa Liverpool meraih segalanya. Mulai dari Liga Premier, Piala FA, Liga Champions, sampai Piala Dunia Antarklub. Prestasi gemilang inilah yang konon membuat Madrid kepincut.
Klopp juga menyentuh soal pemecatan Xabi Alonso. Perasaannya campur aduk.
Di satu sisi ia terkejut, tapi di sisi lain, keputusan itu sebenarnya bisa ditebak. Real Madrid memang terkenal tak punya banyak toleransi untuk pelatih yang dianggap gagal. Alonso, mantan gelandang klub itu sendiri, cuma bertahan kurang dari delapan bulan. Ia pergi dengan status “kesepakatan bersama” sehari setelah kekalahan dari Barcelona.
Klopp lalu mengingatkan sejarah kelam Madrid. Ia menyebut nama Jupp Heynckes yang dipecat pada 1998, cuma delapan hari setelah memboyong gelar Liga Champions, hanya karena gagal menjuarai La Liga.
“Di Madrid memang selalu begitu kalau mereka tidak di puncak,” katanya dengan nada memahami.
Sebagai penutup, dia memberi saran untuk Madrid dan klub mana pun yang sedang mencari pelatih baru.
“Saran saya, kalau mau memecat seorang manajer, sebaiknya sudah punya gambaran jelas siapa penggantinya. Dan itu harus realistis. Kalau kamu mikir bisa merekrut Pep Guardiola, ya… peluangnya kecil banget,” pungkas Klopp. (")
Artikel Terkait
Mourinho Tolak Sinetron Madrid: Saya Tak Mau Terlibat
Martinez Panas, Legenda MU Sindir Mentalitas Bek Argentina
Jonatan Christie Mundur dari Indonesia Masters, Dengarkan Tubuh Lebih Penting
Laga Penentu di Liga Champions: Arsenal dan Real Madrid Berjuang di Tepi Jurang