Di sisi lain, BWF sejauh ini belum menunjukkan sinyal akan mengganti tuan rumah untuk Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis yang rencananya digelar di India pada Agustus mendatang.
"Perpindahan ke Indira Gandhi Sports Complex memberikan ruang yang lebih luas bagi atlet dan ofisial serta memenuhi persyaratan Lapangan Permainan BWF untuk menyelenggarakan Kejuaraan Dunia BWF," demikian pernyataan mereka.
Keluhan soal polusi ternyata bukan isapan jempol. Pebulu tangkis Denmark, Anders Antonsen, sampai memilih mundur. Dia lebih memikirkan kesehatannya ketimbang harus terpapar udara buruk New Delhi. Keputusannya itu berbuah denda.
"Karena polusi ekstrem saat ini, saya gak berpikir New Delhi bisa jadi tuan rumah turnamen bulu tangkis. Semoga di musim panas akan lebih baik saat Kejuaraan Dunia. Akibatnya saya didenda USD 5.000 (sekitar Rp 84,5 juta) oleh BWF," tuturnya.
Suara serupa datang dari Ratchanok Intanon asal Thailand dan Michelle Li dari Kanada. Dari tim Indonesia, Putri Kusuma Wardani dan Jonatan Christie juga kompak mengeluh. Dinginnya luar biasa, kata mereka, tanpa adanya pemanas.
Pengalaman Putri bahkan lebih menyeramkan. Lapangan terlihat samar-samar olehnya, seperti diselimuti kabut. Jonatan punya cerita lain. Tangannya sampai terluka karena dia memaksakan pemanasan berlebihan hanya untuk melawan suhu yang menggigit. Sungguh, persiapan yang jauh dari ideal untuk sebuah turnamen besar.
Artikel Terkait
Putri Cantik John Herdman Curi Perhatian di Debut Pelatih Baru Timnas Indonesia
Janice Tjen Buka Musim dengan Gelar Ganda di Hobart
City Terkapar, United Siap Garuk Poin di Derby Manchester?
Carrick Bicara Magis MU Jelang Derbi Panas Kontra City