Musim Super League 2025/26 baru saja menginjak pekan ke-13. Tapi, sudah ada delapan pelatih yang angkat kaki dari kursinya. Padahal, kompetisi yang diikuti 18 klub ini belum sampai separuh jalan. Ada yang dipecat, ada pula yang memilih mundur sendiri.
Fenomena ini menarik perhatian Jean-Paul van Gastel. Pelatih PSIM Yogyakarta itu mengaku agak heran. Menurutnya, jumlah pemecatan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia itu terlihat tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan liga-liga lain.
"Sepertinya cukup mudah untuk dipecat di sini,"
ungkap van Gastel kepada media, Kamis pekan lalu. Mantan asisten pelatih Feyenoord itu merasa pergantian pelatih terjadi begitu saja, meski musim masih sangat muda.
Ia punya alasan. "Delapan pemecatan sebelum paruh musim itu banyak. Saya pikir itu di atas rata-rata di seluruh dunia," tambahnya.
Deretan nama yang sudah pergi cukup panjang: Bernardo Tavares (PSM Makassar), Eduardo Almeida (Semen Padang), lalu Peter de Roo (Persis Solo). Juga ada Alfredo Vera (Madura United), Mario Lemos (Persijap Jepara), dan Eduardo Perez (Persebaya Surabaya). Tak ketinggalan, Ong Kim Swee (Persik Kediri) serta Divaldo Alves (PSBS Biak). Intinya, performa tim dinilai tak sesuai target, dan manajemen pun menarik tuas.
Di sisi lain, tim asuhan van Gastel justru sedang bersinar. Sebagai tim promosi, PSIM Yogyakarta malah nyaman bercokol di posisi kelima klasemen sementara dengan 22 poin. Hasil yang cukup mengejutkan bagi banyak pihak.
Laskar Mataram akan diuji dalam dua laga tersisa tahun ini. Mereka bertandang ke markas Persijap Jepara pada Selasa (23/12), sebelum kembali ke kandang menjamu PSBS Biak tepat seminggu setelahnya.
Artikel Terkait
Kiandra Ramadhipa Ukir Sejarah di Red Bull Rookies Cup Spanyol, Raih Bonus Rp50 Juta
Arsenal Andalkan Ketajaman Gyokeres saat Hadapi Atletico di Leg Kedua Semifinal Liga Champions
Manchester City Tertahan oleh Everton, Arsenal Semakin Dekat dengan Gelar Juara Liga Inggris
Barcelona Satu Langkah Lagi Juara La Liga, El Clasico Lawan Real Madrid Jadi Penentu