Sejarah Terulang di Bangkok: Tenis Indonesia Sabet Emas Ganda SEA Games Setelah 24 Tahun

- Senin, 15 Desember 2025 | 07:25 WIB
Sejarah Terulang di Bangkok: Tenis Indonesia Sabet Emas Ganda SEA Games Setelah 24 Tahun

BANGKOK Kabar gembira datang dari arena tenis SEA Games 2025 di Thailand. Kontingen Indonesia berhasil melakukan sesuatu yang langka: merebut medali emas di nomor beregu putra dan putri sekaligus. Pencapaian terakhir seperti ini terjadi 24 tahun silam, tepatnya di Kuala Lumpur 2001. Jadi, bisa dibilang, sejarah benar-benar terulang.

Dulu, di tahun 2001, tim putra diisi nama-nama seperti Suwandi dan Peter Handoyo. Sementara di sektor putri, ada Wyne Prakusya dan Yayuk Basuki yang jadi andalan. Kini, di Thailand, generasi baru lah yang menorehkan tinta emas.

Semuanya berlangsung Sabtu lalu. Partai final melawan tuan rumah Thailand berjalan alot. Tapi hasilnya, kedua tim kita berhasil naik ke podium tertinggi. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan.

Di sektor putri, jalan menuju emas tak mulus. Priska Madelyn Nugroho sempat tumbang di partai pembuka. Namun, tekanan itu justru memantik semangat. Janice Tjen berhasil menyamakan kedudukan lewat kemenangan di tunggal. Momentum pun berpihak ke Indonesia.

Kemenangan akhirnya dipastikan oleh duet Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi di partai ganda. Mereka tampil solid dan menutup pertandingan dengan gemilang.

Aldila sendiri mengaku lega. "Pertandingannya sangat ketat, tidak mudah sama sekali," ujarnya.

"Kami coba bermain enjoy dan saling menyemangati. Rasanya senang sekali bisa menghadiahkan emas untuk Indonesia. Apalagi dapat bonus, jadi makin senang," candanya.

Bagi Janice Tjen, emas ini punya rasa yang spesial. Ini adalah penampilan perdananya di SEA Games. Langsung pulang membawa medali emas tentu sebuah awal yang manis. Pencapaian ini makin istimewa mengingat dia juga baru saja mencatat sejarah dengan lolos ke babak utama Grand Slam.

"Saya bersyukur bisa meraih emas di SEA Games pertama saya. Ini berkat tim yang solid dan kompak," kata Janice.

Di sisi lain, tim putra juga mengalami drama serupa. Mereka sempat tertinggal setelah Justin Barki kalah di laga pembuka. Suasana mencekam, tapi Rifqi Fitriadi bangkit dan berhasil menyamakan kedudukan. Semuanya kemudian bergantung pada partai ganda penentu.

Justin Barki, yang sempat tumbang di tunggal, kembali turun berduet dengan Christopher Rungkat. Dan chemistry mereka ternyata masih menyala. Mereka bermain bagus dan membawa pulang kemenangan serta medali emas.

Christopher Rungkat, atau yang akrab disapa Christo, tak lupa mengucapkan terima kasih. "Ini baru awal. Kami masih punya nomor perorangan. Mohon doa dan dukungannya agar bisa tambah lagi medali untuk Indonesia," ujarnya.

Bagi Justin Barki, momen ini sangat emosional. Ini adalah medali emas SEA Games pertamanya. "Rasanya luar biasa," akunya.

Meski jarang berlatih bersama, dia memuji chemistry dengan Christo. "Dia adalah yang terhebat dalam tenis Indonesia. Kita gak perlu ragu soal itu," sebut Justin.

Namun yang paling menyentuh adalah keputusannya setelah kemenangan. Justin mengumumkan akan menyumbangkan seluruh bonus yang diterimanya untuk korban banjir di Sumatera Utara.

"Saya punya mimpi untuk melihat semua orang di sana. Jumlahnya mungkin tidak besar, tapi saya harap bisa sedikit meringankan beban mereka," tuturnya.

Aksi mulia itu seperti memberi warna lebih pada kemenangan yang sudah manis. Dua medali emas, satu sejarah terulang, dan sebuah kepedulian yang lahir dari puncak prestasi. Sungguh hari yang sempurna untuk tenis Indonesia.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar