Guardiola Sindir Alonso: Dia Tak Kencing Parfum, Jadi Akan Baik-Baik Saja

- Rabu, 10 Desember 2025 | 16:30 WIB
Guardiola Sindir Alonso: Dia Tak Kencing Parfum, Jadi Akan Baik-Baik Saja

MADRID Konferensi pers jelang laga besar kerap penuh drama. Kali ini, di hadapan para wartawan, Pep Guardiola justru melontarkan sindiran yang cukup tajam untuk Xabi Alonso. Kedua tim, Real Madrid dan Manchester City, akan bentrok di Santiago Bernabeu pada Kamis dini hari nanti. Tapi, yang jadi bahan pembicaraan bukan cuma taktik, melainkan juga nasib sang arsitek Madrid yang dikabarkan terancam.

Tekanan terhadap Alonso memang sedang memuncak. Kekalahan dari City di Liga Champions bisa menjadi pukulan terakhir yang mengakhiri jabatannya. Makanya, wajar jika media menanyakan hal ini pada Guardiola, yang dulu pernah menjadi mentor Alonso di Barcelona.

Guardiola punya jawaban yang nyeleneh. Saat ditanya apakah ada pesan untuk Alonso, dia balik bertanya dengan nada main-main.

“Untuk kencing dengan miliknya sendiri. Dia tidak kencing parfum, jadi dia mungkin akan baik-baik saja, kamu akan lihat. Itu judulnya, kan?”

Ungkapan “kencing parfum” itu sindiran lama yang pernah ditujukan pada Guardiola sendiri di masa awal karirnya, menuding seseorang yang dianggap terlalu sok sempurna. Sindiran ini sekaligus jadi pembuka percakapan yang cukup dingin menjelang duel panas.

Di sisi lain, Guardiola juga menyentuh isu yang lebih dalam: soal siapa yang sebenarnya berkuasa di ruang ganti Real Madrid. Beredar kabar kuat bahwa para pemain bintang punya pengaruh lebih besar ketimbang pelatihnya sendiri.

“Saya tidak ada di sana, jadi saya tidak tahu persis situasinya,” kata Guardiola dengan hati-hati. “Tapi pada akhirnya, ini soal hierarki dan kekuasaan. Kalau hierarki klub mau memberi kekuasaan ke pelatih, ya pelatih yang berkuasa. Kalau mau diberikan ke pemain, ya pemainlah yang punya.”

Dia mengakui, tantangan melatih klub sebesar Madrid itu luar biasa berat. “Xabi tahu realitasnya, dia pernah di sini. Ini semua tentang memenangkan pertandingan. Saya tahu mereka lagi dihantam cedera, dan itu menyulitkan proses membangun tim. Kami alami hal serupa musim lalu. Tapi, ya, saya yakin dia mampu.”

Hubungan pribadi mereka memang baik. Mereka pernah bekerja sama selama dua setengah tahun di Barcelona. “Kami berbagi banyak hal,” akunya. Tapi Guardiola menekankan, baik Barcelona maupun Real Madrid adalah dua klub tersulit untuk dilatih, berkat tekanan dan lingkungan yang begitu intens.

“Musim ini berat. Semuanya bergantung pada kemenangan… dan kalau kamu tidak menang, kamu tahu apa konsekuensinya. Saya sendiri mengalaminya musim lalu! Tapi Xabi bisa melalui ini.”

Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa Alonso adalah penerus alami dari gaya permainan Guardiola? Pelatih City itu membantah tegas.

“Tidak, tim saya luar biasa. Tim saya tidak bisa dibandingkan dengan tim lain mana pun. Itu judul lainnya. Setiap tim punya gayanya sendiri. Xabi tahu betul apa yang harus dia lakukan. Realitasnya berbeda, klubnya berbeda, pemainnya juga berbeda.”

Menurutnya, kritik untuk Alonso saat ini juga terasa berlebihan. “Coba lihat, empat hari yang lalu, bukan empat bulan, mereka masih memimpin puncak klasemen LaLiga,” ujarnya, mencoba memberikan perspektif.

Di kubu Madrid, Alonso sendiri berusaha tenang. Dalam konferensi pers terpisah, dia mengklaim masih mendapat dukungan penuh dari manajemen klub. Pemain seperti Aurelien Tchouameni juga angkat bicara, menyebut bahwa tanggung jawab atas hasil buruk harus dipikul bersama oleh seluruh skuat.

Namun begitu, fakta tetap tak terbantah. Dengan drama internal yang memanas, dan pertandingan penuh tekanan melawan City di depan mata, nasib Xabi Alonso benar-benar digantung pada seutas benang. Setiap keputusan, setiap gol, bisa menjadi penentu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar