Menanggapi hal ini, Donald Trump menyampaikan kritik pedas. Dari pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menyindir Putin bahwa yang seharusnya dilakukan adalah mengakhiri perang di Ukraina, bukan melakukan uji coba rudal.
"Dia seharusnya mengakhiri perang. Perang yang seharusnya berlangsung selama satu minggu, saat ini akan segera memasuki tahun keempat. Itulah yang seharusnya dia lakukan, alih-alih menguji coba rudal," ujar Trump.
Rusia Lanjutkan Uji Coba dengan Senjata Bawah Air 'Poseidon'
Merespons sindiran Trump, Putin justru melanjutkan demonstrasi kekuatan militernya dengan mengumumkan uji coba sukses lainnya. Kali ini, Rusia menguji "Poseidon", sebuah perangkat bawah air tak berawak (UUV) bertenaga nuklir.
Putin menyatakan bahwa tidak ada cara untuk mencegat torpedo nirawak ini. Poseidon diklaim dapat beroperasi di kedalaman lebih dari satu kilometer, melaju dengan kecepatan hingga 70 knot, dan mampu mencapai benua mana pun di dunia sambil membawa hulu ledak nuklir yang sangat besar.
Dengan pengumuman senjata-strategis baru ini, ketegangan dalam lomba senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia kembali memanas, menandai babak baru dalam dinamika keamanan global.
Artikel Terkait
Tabung Pink Misterius di Balik Misteri Kematian Lula Lahfah
DPR Usul Dana Makan Bergizi Gratis Tak Cukup dari Anggaran Pendidikan
MK Tegaskan Kewenangan Presiden Soal Grasi dan Amnesti Tetap Utuh
BMKG: Hujan Masih Guyur Jawa-Bali hingga Februari, Waspada Cuaca Ekstrem