“Saking penting dan urgen-nya MBG, semuanya diabaikan. Termasuk akal sehat.”
Kalimat pedas itu dilontarkan Yanuar Nugroho, seorang sosok yang namanya tak asing di lingkaran kebijakan publik. Dia bukan cuma akademisi, tapi juga praktisi yang pernah merasakan langsung denyut nadi pemerintahan. Ya, Yanuar pernah menjabat sebagai Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) di periode pertama Jokowi, sebelum akhirnya memilih mundur di awal periode kedua. Alasannya klasik tapi prinsipil: perbedaan pandangan soal arah kepemimpinan negara.
Kini, di luar pemerintahan, suaranya justru makin sering terdengar sebagai pengkritik. Lewat platform seperti Kritikus Kebijakan Publik, dia rutin menyoroti berbagai hal, termasuk catatan-catatannya untuk pemerintahan Prabowo. Latar belakangnya sebagai pakar foresight atau peramalan strategis dengan pengalaman lebih dari dua dekade membuat analisisnya sering kali menusuk ke depan, melihat konsekuensi yang mungkin tak terpikirkan oleh banyak orang.
Artikel Terkait
Jalan Lintas Aceh Tengah–Bener Meriah Amblas, Tanah Bergerak Sejak 2002
Hujan Deras di Jakarta, Tiga Rute Transjakarta Dialihkan Akibat Genangan
Ribuan Nahdliyin Padati Istora, Rayakan Seabad NU dengan Semangat Merawat Peradaban
Ujang, Penjaga Sunyi yang Menjaga Nyawa di Bantaran Citarum