“Saking penting dan urgen-nya MBG, semuanya diabaikan. Termasuk akal sehat.”
Kalimat pedas itu dilontarkan Yanuar Nugroho, seorang sosok yang namanya tak asing di lingkaran kebijakan publik. Dia bukan cuma akademisi, tapi juga praktisi yang pernah merasakan langsung denyut nadi pemerintahan. Ya, Yanuar pernah menjabat sebagai Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) di periode pertama Jokowi, sebelum akhirnya memilih mundur di awal periode kedua. Alasannya klasik tapi prinsipil: perbedaan pandangan soal arah kepemimpinan negara.
Kini, di luar pemerintahan, suaranya justru makin sering terdengar sebagai pengkritik. Lewat platform seperti Kritikus Kebijakan Publik, dia rutin menyoroti berbagai hal, termasuk catatan-catatannya untuk pemerintahan Prabowo. Latar belakangnya sebagai pakar foresight atau peramalan strategis dengan pengalaman lebih dari dua dekade membuat analisisnya sering kali menusuk ke depan, melihat konsekuensi yang mungkin tak terpikirkan oleh banyak orang.
Selain itu, dia juga mendirikan Nalar Institute, lembaga yang fokus mengasah nalar publik dan mendorong kebijakan berbasis bukti. Jadi, ketika bicara, biasanya ada data dan kerangka pikir di baliknya.
Kritik tajamnya terhadap program MBG (Makanan Bergizi Gratis) itu sendiri bukan datang tiba-tiba. Menurut sejumlah saksi, ungkapan tersebut muncul dalam sebuah obrolan di podcast milik Mahfud MD yang tayang akhir Januari 2026 lalu. Dalam percakapan itu, Yanuar tak sekadar menyebut MBG sebagai program. Lebih dari itu, dia menyebutnya sudah berubah wujud menjadi sebuah “proyek”. Implikasinya jelas: ada mekanisme, kepentingan, dan logika di baliknya yang mungkin sudah melenceng dari tujuan awalnya.
Di sisi lain, respons masyarakat terhadap paparannya cukup beragam. Seperti cuitan satu netizen di Twitter yang berterima kasih atas sharing yang diberikan Yanuar dan Mahfud.
“Nyimak obrolan pak yanuar dan pak mahfud di podcast, Terimakasih atas runtutan sharingnya bapak 🙏🏼 Semoga ada titik terang di anggaran perubahan atau angin politik perubahan di 2026 ini”
Namun begitu, di tengah harapan itu, kritik Yanuar tetap menggantung. Sebuah peringatan bahwa dalam gegap gempita sebuah program besar, akal sehat tak boleh ikut terabaikan. Poin yang sederhana, tapi seringkali terlupakan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu