Stok Pangan Jelang Ramadan Dipastikan Aman, Pemerintah Genjot Intervensi Harga

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:00 WIB
Stok Pangan Jelang Ramadan Dipastikan Aman, Pemerintah Genjot Intervensi Harga

Menjelang Ramadan dan Idulfitri, isu stok pangan selalu jadi perhatian. Nah, kabar baiknya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan bahan pokok strategis secara nasional masih dalam kondisi aman. Jaminan ini datang seiring dengan berbagai program intervensi yang digelar pemerintah.

Direktur Stabilisasi Pasukan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyampaikan hal itu Sabtu lalu (31/1).

"Sesuai arahan Kepala Bapanas, kami terus memastikan ketersediaan bagi masyarakat, terutama menyambut Ramadan dan Idulfitri yang tinggal sebentar lagi," ujar Maino.

Faktanya, berdasarkan proyeksi neraca per 6 Januari lalu, sejumlah komoditas kunci diprediksi masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan. Periode itu kebetulan mencakup puncak Ramadan dan Lebaran yang diperkirakan berlangsung dari pertengahan Februari hingga Maret.

Beras, misalnya. Total ketersediaan nasional dari Januari sampai Maret diproyeksikan mencapai 22,2 juta ton. Angka ini berasal dari stok awal tahun yang mencapai 12,4 juta ton, ditambah produksi tiga bulanan sekitar 9,8 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsinya 'hanya' 7,7 juta ton. Artinya, bakal ada surplus signifikan sekitar 14,5 juta ton di akhir Maret nanti.

Komoditas lain juga tak kalah solid. Untuk daging ayam ras, ketersediaan tiga bulanan diprediksi 1,6 juta ton. Konsumsinya sekitar 1,01 juta ton. Jadi masih ada kelebihan. Begitu pula dengan telur ayam ras. Stok awal ditambah produksi hingga Maret mencapai 1,9 juta ton, sementara konsumsinya 1,67 juta ton. Surplusnya kira-kira 305,8 ribu ton.

Gula konsumsi pun demikian. Ketersediaan hingga Maret diproyeksikan 1,46 juta ton, jauh di atas kebutuhan konsumsi nasional yang sekitar 712,5 ribu ton untuk periode yang sama. Surplusnya diperkirakan mencapai 751,5 ribu ton.

Tak ketinggalan daging sapi dan kerbau. Komoditas ini juga dipastikan aman. Total ketersediaan Januari-Maret bisa mencapai 185,4 ribu ton, dengan rincian stok awal 41,6 ribu ton, produksi dan pemotongan 125,2 ribu ton, serta impor daging beku 18,5 ribu ton. Angka ini masih di atas proyeksi konsumsi nasional sebesar 179 ribu ton.

Namun begitu, jaminan stok saja tidak cukup. Maino menegaskan, Bapanas bersama stakeholder akan menggencarkan program intervensi yang langsung menyentuh masyarakat.

"Misalnya melalui pasar murah seperti Gerakan Pangan Murah dan penyaluran beras SPHP," jelasnya.

Gerakan Pangan Murah sendiri, hingga minggu ketiga Januari, sudah direalisasikan 264 kali di 106 kabupaten/kota. Capaian awal tahun ini melonjak 52,6 persen dibanding periode sama tahun lalu. Bapanas berencana terus melesatkan frekuensi GPM hingga Idulfitri mendatang. Sementara untuk program SPHP beras, realisasi penjualan Perum Bulog pada Januari telah menyentuh sekitar 63 ribu ton.

Di sisi lain, komitmen pemerintah tak hanya pada ketersediaan, tapi juga stabilitas harga. Pengawasan akan diperketat melalui Satgas Saber Pangan 2026. Pengawasan ini akan menjangkau seluruh rantai, mulai dari hulu seperti produsen dan distributor, hingga ke hilir: toko besar, pedagang eceran, hingga ritel modern.

Dalam konferensi pers terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, menyoroti faktor lain: distribusi dan cuaca.

"Kali ini kita fokus ke jalur distribusinya. Soal ketersediaan barang pokok, tidak ada masalah. Yang perlu jadi perhatian adalah faktor cuaca," kata Iqbal.

Menurutnya, meski secara umum kondisi cuaca normal, periode Februari dan Maret perlu diwaspadai. Beberapa wilayah seperti Sulawesi dan Papua berpotensi diguyur hujan lebat.

"Oleh karena itu, kami sudah bersepakat dengan semua distributor, termasuk BUMN Pangan seperti Bulog dan ID FOOD, untuk melancarkan pendistribusian lebih awal. Tujuannya, saat puncak penghujan tiba, barang-barang pokok sudah sampai di lokasi," tutur Iqbal menjelaskan strategi antisipasi.

Kesiapan ini sejalan dengan pernyataan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, beberapa waktu lalu. Amran telah meminta pelaku usaha pangan untuk bersama-sama menjaga harga.

Ditegaskannya, tidak boleh ada pematokan harga yang tidak wajar. Semua harus berpatokan pada HET, HAP di tingkat produsen, maupun HAP di tingkat konsumen. Itu aturan mainnya.

Jadi, secara garis besar, pemerintah merasa sudah siap. Stok aman, program intervensi jalan, pengawasan diperkuat. Tinggal menunggu eksekusi di lapangan saja.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler