Misteri di Balik Keputusan Berani Mohammad Jasin: Pendiri Brimob yang Ubah Arah Sejarah Indonesia

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 13:25 WIB
Misteri di Balik Keputusan Berani Mohammad Jasin: Pendiri Brimob yang Ubah Arah Sejarah Indonesia

Keteladanan Mohammad Jasin: Pendiri Brimob dan Teladan Penegak Hukum

Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Mohammad Jasin, sang pendiri Brigade Mobile (Brimob) yang dijuluki sebagai 'Bapak Brimob'. Nilai-nilai keteladanannya di masa lalu tetap relevan dan patut dicontoh oleh seluruh aparat penegak hukum masa kini.

Diskusi Memperingati 74 Tahun Brimob: Mengenang Jasa Mohammad Jasin

Dalam rangka memperingati hari jadi ke-74 Brimob, Divisi Humas Polri menyelenggarakan diskusi khusus yang mengangkat tema keteladanan Mohammad Jasin. Acara yang digelar pada Kamis, 30 Oktober ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, termasuk Sejarawan Lorenzo Youwerissa, mantan Kapuspen Polri Tahun 2001 Komjen (Purn) Didi Widayadi, serta para akademisi dari Universitas Indonesia dan pengamat komunikasi Devie Rahmawati.

Momen Bersejarah: Ikrar Polisi Republik Indonesia Pertama

Lorenzo Youwerissa sebagai sejarawan mengungkapkan momen bersejarah ketika Mohammad Jasin membacakan ikrar sebagai Polisi Republik Indonesia pada tahun 1945. Peristiwa ini terjadi dalam situasi vakum kekuasaan setelah Jepang kalah dari Sekutu.

Pada 19 Agustus 1945, Jasin yang saat itu menjabat sebagai Komandan Pasukan Polisi Istimewa Surabaya, didatangi oleh para pemuda yang menanyakan kesetiaannya - apakah masih berpihak kepada Jepang atau sudah beralih membela Indonesia.

Keputusan Bersejarah 21 Agustus 1945

"Sejak tanggal 20 Agustus 1945 malam, Pak Jasin mengumpulkan anggota polisi istimewa lainnya dan memutuskan untuk membacakan ikrar bahwa polisi istimewa adalah Polisi Republik Indonesia pada 21 Agustus 1945 pukul 7 pagi," jelas Lorenzo.

Lorenzo menegaskan bahwa tindakan Jasin tersebut merupakan contoh penggunaan diskresi yang tepat dengan dampak signifikan terhadap penegasan status hukum di masa awal kemerdekaan Indonesia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar