Anies: Kepercayaan Publik Runtuh Saat Pemimpin Utamakan Kepentingan Pribadi

- Kamis, 07 Mei 2026 | 08:30 WIB
Anies: Kepercayaan Publik Runtuh Saat Pemimpin Utamakan Kepentingan Pribadi

Kepercayaan publik terhadap seorang pemimpin akan runtuh ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan dibandingkan kepentingan bersama. Hal tersebut disampaikan oleh tokoh nasional Anies Baswedan dalam sebuah forum diskusi yang digelar di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2026). Menurutnya, kepercayaan merupakan fondasi utama yang menentukan sah atau tidaknya seseorang disebut sebagai pemimpin.

Dalam pemaparannya di hadapan pelajar, mahasiswa, dan guru, Anies menjelaskan bahwa kepercayaan terbangun dari tiga faktor utama, yaitu kompetensi, integritas, dan kedekatan atau intimacy. Namun, ketika kepentingan pribadi mulai masuk, kepercayaan itu langsung menurun drastis. “Kepercayaan meningkat kalau ada kompetensi, meningkat kalau ada integrity, meningkat kalau ada intimacy, turun kalau ada self-interest,” ujarnya.

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menegaskan bahwa seorang pemimpin yang lebih mementingkan diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya akan kehilangan legitimasi di mata publik. Ia mencontohkan fenomena yang kerap terjadi di masyarakat, di mana kepercayaan luntur begitu publik melihat pemimpin lebih sibuk mengurus kepentingan pribadi ketimbang urusan rakyat.

“Begitu kepentingan pribadi masuk, oh itu kepercayaan itu turun langsung. Jadi yang dipikirin dirinya sendiri, anaknya, ponakannya, bener, nggak? Keluarganya. Langsung pada nggak percaya, kan?” kata Anies.

Lebih lanjut, Anies menekankan bahwa esensi kepemimpinan tidak ditentukan oleh jabatan atau gelar, melainkan oleh keberadaan pengikut yang percaya. “Jadi apa yang membuat dia otomatis pemimpin? Satu saja, punya pengikut. You are not a leader if you have no follower,” tegasnya.

Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya integritas sebagai pilar kepercayaan. Menurut Anies, integritas bukan sekadar kejujuran, melainkan kejujuran yang selaras dengan nilai kebenaran dan kepentingan publik. “Integritas itu bukan hanya jujur, tapi jujur plus sejalan dengan nilai kebenaran dan nilai kepentingan publik,” katanya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun mengingatkan generasi muda untuk mulai membangun kapasitas kepemimpinan sejak di bangku kuliah. Ia mendorong mereka untuk memperkuat kompetensi, menjaga integritas, dan menekan kepentingan pribadi yang berlebihan. “Kita tahu kenapa kepercayaan kita turun karena self-interest-nya membesar. Jadi adik-adik semua, belajar kepemimpinan kendalikan ini nih,” pesannya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar