Soft Power Indonesia: Rahasia Diplomasi yang Bikin Dunia Terpukau

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 12:40 WIB
Soft Power Indonesia: Rahasia Diplomasi yang Bikin Dunia Terpukau

Peran Soft Power Indonesia: Diplomasi Budaya dan Pendidikan di Kancah Global

Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab disapa Ibas, menegaskan peran strategis budaya dan pendidikan sebagai soft power Indonesia untuk memperkuat posisi negara di tataran global. Menurutnya, diplomasi Indonesia telah lama berdiri di atas fondasi kemandirian dan solidaritas, yang tercermin sejak Konferensi Asia Afrika 1955 hingga pembentukan Gerakan Non-Blok.

Dalam pernyataannya di acara International Relations Anniversary Festival (INTRAFEST) 2025, Ibas menjelaskan bahwa prinsip 'Bebas dan Aktif' dalam politik luar negeri Indonesia bukanlah bentuk netralitas, melainkan keberpihakan yang berani pada perdamaian dunia.

Ibas juga menyoroti evolusi diplomasi Indonesia, khususnya pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dikenal dengan pendekatan 'A Million Friends and Zero Enemy'. Filosofi ini, ungkapnya, menekankan bahwa kekuatan bangsa tidak terletak pada konfrontasi, melainkan pada kontribusi dan kepercayaan yang dibangun dengan negara lain.

Pendidikan sebagai Fondasi Diplomasi Masa Depan

Lebih lanjut, Ibas menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun diplomasi yang tangguh di masa depan. Ia menyebut soft power melalui pendidikan sebagai jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional.

Berbagai program seperti pertukaran pelajar, beasiswa, dan riset kolaboratif internasional disebutkannya sebagai contoh nyata upaya memperluas jejaring intelektual Indonesia. "Investasi terbesar bangsa adalah pada otak dan karakter generasinya," tegasnya.

Budaya sebagai Alat Diplomasi Universal

Tak kalah penting, Ibas menyoroti peran vital budaya dalam memperkuat identitas dan diplomasi bangsa. Ia menggambarkan budaya sebagai bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan ketika politik memecah belah.

Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, dan keberagaman dapat diperkenalkan kepada dunia melalui medium batik, kuliner, musik, dan film. Di era digital ini, para kreator konten pun disebutnya dapat berperan sebagai diplomat budaya melalui karya-karya yang mempromosikan nilai-nilai positif Indonesia.

"Diplomasi yang hebat bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus mendengar," pungkas Ibas.

Apresiasi dari Peserta dan Alumni

Penyampaian materi ini mendapat sambutan hangat dari peserta. Liasta Benita, salah satu mahasiswa, mengaku sangat terinspirasi dan menyebut materi yang diberikan "sangat berbobot" bagi mahasiswa Hubungan Internasional.

Pendapat senada disampaikan Muhammad Nabil, yang berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut. Samti Wira Wibawati, alumni HI UPNVJ yang kini berprofesi sebagai Tenaga Ahli Fraksi Partai Demokrat, juga menyampaikan apresiasinya dan berharap paparan Ibas dapat memacu semangat anak muda untuk berkarya bagi Indonesia.

Acara INTRAFEST 2025 ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-25 Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPN 'Veteran' Jakarta, dan dihadiri oleh sejumlah pimpinan universitas serta tokoh alumni.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar