Lebanon, Israel, dan AS Teken Kerangka Kesepakatan Damai Bersejarah

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:45 WIB
Lebanon, Israel, dan AS Teken Kerangka Kesepakatan Damai Bersejarah

Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat menandatangani kerangka kesepakatan trilateral yang bertujuan membuka jalan menuju perjanjian damai permanen antara dua negara yang telah lama bermusuhan. Kesepakatan itu dicapai setelah lima putaran perundingan di Washington.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah awal menuju perdamaian yang lebih luas. "Kesepakatan ini mulai membangun kerangka menuju perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan. Ini adalah awal dari sebuah awal. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Rubio saat upacara penandatanganan.

Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh Moawad, mengatakan kesepakatan itu merupakan langkah pertama untuk memulihkan kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon, mengakhiri permusuhan secara permanen, serta memungkinkan warga kembali ke tempat tinggal mereka. Sementara itu, Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menyatakan bahwa kesepakatan tersebut membuka jalan menuju perdamaian dengan menyingkirkan pengaruh Iran dan Hizbullah dari persamaan keamanan di Lebanon.

Isi Kesepakatan

Berdasarkan dokumen yang dirilis Departemen Luar Negeri AS, Israel dan Lebanon menyatakan niat untuk mengakhiri konflik secara permanen, menyelesaikan akar penyebabnya, serta secara resmi mengakhiri status perang di antara kedua negara. Kesepakatan juga menetapkan mekanisme bagi Angkatan Bersenjata Lebanon untuk memulihkan kewenangan penuh atas seluruh wilayah Lebanon setelah pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara, terutama Hizbullah, dapat diverifikasi.

Sebagai bagian dari proses tersebut, militer Israel akan menarik pasukannya secara bertahap dari wilayah Lebanon. Pada tahap awal, tentara Lebanon akan mengambil alih pengamanan di dua wilayah percontohan, masing-masing di selatan dan utara Sungai Litani. Setelah pengamanan berjalan, rekonstruksi yang didukung masyarakat internasional akan dimulai sehingga warga sipil dapat kembali ke daerah tersebut.

Selain itu, Amerika Serikat akan membentuk kelompok kerja militer untuk membantu implementasi kesepakatan, mengalokasikan bantuan kemanusiaan sebesar US$100 juta melalui koordinasi dengan PBB, serta mengganti biaya operasional Angkatan Bersenjata Lebanon sebesar US$30 juta guna meningkatkan kapasitas mereka.

Perbedaan Sikap Masih Ada

Meski kerangka kesepakatan telah ditandatangani, perbedaan pandangan antara Israel dan Hizbullah masih cukup tajam. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menegaskan Israel harus menarik seluruh pasukannya tanpa syarat dari setiap wilayah Lebanon. Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan Israel tidak akan meninggalkan Lebanon sebelum Hizbullah benar-benar melucuti seluruh persenjataannya.

Konflik yang berlangsung sejak Maret telah menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dan sedikitnya 4.200 orang tewas, menurut otoritas Lebanon.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags