BGN Kaji Ulang Penerima Makan Bergizi Gratis, Sekolah Elite Bakal Dicoret

- Kamis, 11 Juni 2026 | 19:40 WIB
BGN Kaji Ulang Penerima Makan Bergizi Gratis, Sekolah Elite Bakal Dicoret

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah melakukan penataan ulang terhadap pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG), terutama dalam hal pengelompokan penerima manfaat. Langkah ini diambil agar program tersebut tidak lagi dinikmati oleh sekolah elite atau golongan masyarakat yang secara ekonomi mampu.

“Ya, ya. Maksudnya yang mampu, yang kaya nanti tidak dapat lagi,” ujar Kepala BGN Nanik S Deyang kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Meski demikian, Nanik belum merinci lebih jauh mengenai laporan yang sedianya akan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia mengaku agenda pelaporan tersebut ditunda hingga keesokan harinya. “Ini kan belum, besok dibahasnya. Belum, belum. Katanya besok sore,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) dalam rapat koordinasi bersama BGN meminta agar pelaksanaan MBG segera dievaluasi. Salah satu sorotan utamanya adalah ketepatan sasaran penerima manfaat program tersebut.

Zulhas mengungkapkan bahwa masih banyak sekolah elite yang justru menerima MBG, padahal secara ekonomi tidak membutuhkan. Sebaliknya, sejumlah sekolah yang sangat memerlukan bantuan pangan bergizi justru belum tersentuh, terutama yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Dalam rangka perbaikan, kita perlu apa, refocusing agar penerima manfaat ini tepat. Misalnya, sekolah-sekolah yang bagus ini akan dilakukan langsung satu bulan ini. Sekolah-sekolah yang elite, ya, memang enggak memerlukan makan bergizi,” kata Zulhas seusai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

“Yang memerlukan belum dapat, tapi yang enggak perlu dapat. Nah, ini akan ditata lebih lanjut karena kita akan fokus kepada yang terlambat ini sangat terlambat 3T,” lanjutnya.

Di sisi lain, Zulhas juga menyoroti aspek kualitas dan kebersihan dapur yang menjadi pusat produksi makanan. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi kasus keracunan pangan dalam pelaksanaan program ini. “Karena kita tidak ada zero tolerance terhadap keamanan pangan ini. Walaupun satu, enggak boleh lagi ada yang keracunan, gitu ya. Oleh karena itu, akan fokus ke sini dalam bulan ini. Iya, sebulan nanti kita lihat lagi,” ujarnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar