Pemprov Banten Kaji Penghapusan Jurusan SMK yang Serap Kerja Rendah, Alihkan ke Program Keahlian Teknis

- Jumat, 08 Mei 2026 | 15:25 WIB
Pemprov Banten Kaji Penghapusan Jurusan SMK yang Serap Kerja Rendah, Alihkan ke Program Keahlian Teknis

Pemerintah Provinsi Banten tengah mengkaji ulang sistem penjurusan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan rencana menutup program studi yang dinilai jenuh atau memiliki tingkat serapan kerja rendah. Langkah ini diambil setelah ditemukan banyak lulusan dari jurusan tertentu justru menjadi penyumbang angka pengangguran di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaluddin, mengungkapkan bahwa sejumlah jurusan seperti sekretaris, ketatausahaan, akuntansi, dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) saat ini sudah terlalu banyak diminati. Akibatnya, lulusan dari program-program tersebut kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

"Jurusan-jurusan yang jenuh itu seperti sekretaris, ketatausahaan, termasuk akuntansi dan TKJ. Itu sekarang sudah terlalu banyak, dan jadi penyumbang pengangguran," ujar Jamaluddin kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).

Pemerintah daerah tidak akan ragu untuk menghapus jurusan-jurusan tersebut dan menggantinya dengan program yang lebih relevan dengan kebutuhan industri di Banten. Meski demikian, Jamaluddin belum menyampaikan secara pasti kapan kebijakan penghapusan ini akan mulai diterapkan.

"Nanti jurusan-jurusan jenuh itu akan kita evaluasi, kita kurangi, bahkan bisa kita hilangkan. Kita ganti dengan jurusan yang lebih produktif," katanya.

Salah satu jurusan yang kini mulai didorong adalah bidang keterampilan teknis dengan daya serap kerja tinggi, seperti pengelasan atau welding dengan spesifikasi tertentu. Jamaluddin menyebutkan bahwa kebutuhan tenaga kerja di sektor ini mencapai ratusan ribu orang, termasuk untuk pekerjaan pengelasan kapal hingga pengelasan bawah air.

"Ada kebutuhan ratusan ribu tenaga kerja untuk bidang pengelasan. Bahkan ada pengelasan kapal sampai pengelasan bawah air yang gajinya bisa mencapai Rp 20 juta sampai Rp 30 juta di Jepang," ungkapnya.

Di samping itu, sektor kuliner dinilai masih memiliki prospek cerah karena terus berkembang dan membutuhkan banyak tenaga kerja terampil. Jamaluddin juga melihat peluang besar di kawasan industri Cilegon, di mana perusahaan-perusahaan kimia dan manufaktur berat membutuhkan lulusan SMK dengan kemampuan teknis tertentu.

"Perusahaan-perusahaan di Cilegon sana misalnya, saat ini membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis, terutama yang berkaitan dengan industri kimia dan manufaktur berat. Jadi banyak kebutuhan akan tenaga kerja teknis itu yang sekarang sedang kita dorong," kata Jamaluddin.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar