Dudung Bantah Tudingan Habib Rizieq soal Jenderal Baliho yang Bisiki Prabowo

- Selasa, 05 Mei 2026 | 15:10 WIB
Dudung Bantah Tudingan Habib Rizieq soal Jenderal Baliho yang Bisiki Prabowo

Kepala Kantor Staf Presiden, Dudung Abdurachman, akhirnya angkat bicara menanggapi pernyataan Habib Rizieq Shihab yang menuding adanya sosok ‘Jenderal Baliho’ yang membisiki Presiden Prabowo Subianto terkait pernyataan ‘kabur ke Yaman’. Dudung dengan tegas membantah bahwa dirinya adalah pihak yang dimaksud, dan menegaskan tidak pernah memberikan pengaruh semacam itu kepada Presiden.

Dalam pernyataannya di Kantor Bina Graha, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026), Dudung mengaku secara pribadi tidak lagi memiliki persoalan dengan Habib Rizieq. Ia menjelaskan bahwa tindakan penurunan baliho yang pernah dilakukannya di masa lalu semata-mata terkait status organisasi Front Pembela Islam (FPI) yang saat itu telah resmi dibekukan oleh pemerintah.

“Oh, yang Presiden katanya kabur ke Yaman itu karena di belakangnya ada Jenderal Baliho itu kan? Ya, kalau menurut saya, antara saya dengan Habib Rizieq sudah nggak ada masalah sebetulnya,” ujar Dudung. “Karena sebetulnya dulu waktu saya menurunkan baliho juga kan, karena FPI itu kan waktu itu organisasi memang sudah dibekukan di tahun 2019,” lanjutnya.

Saat itu, Dudung masih menjabat sebagai Pangdam Jaya. Menurutnya, kebangkitan kembali pengaruh FPI kala itu dipicu oleh narasi ‘revolusi akhlak’ yang dinilai berpotensi mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. “Nah, yang menguatnya itu menurut saya karena ada ajakan-ajakan revolusi akhlak lah, yang kemudian akhirnya dari narasi-narasi yang disampaikan mengajak, kemudian mengembangkan kegiatan-kegiatan yang menurut saya memang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa,” jelasnya.

Dudung menegaskan bahwa langkah penindakan terhadap FPI saat itu telah melalui koordinasi lintas lembaga. “Dan yang membubarkan itu kan Kemendagri, Menko Polhukam. Kalau masih ingat kata-kata saya pada saat di Monas, ‘Kalau perlu FPI bubarkan’. Dan bener dibubarkan. Sebetulnya memang sudah dibekukan,” tuturnya.

Mengenai tuduhan bahwa dirinya kini membisiki Presiden Prabowo setelah menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Dudung membantah keras. “Nah, sekarang ramai seakan-akan bahwa saya jadi KSP kemudian akhirnya narasi dari Bapak Presiden itu muncul. Ya itu bukan, bukan dari saya,” tegasnya.

Di tengah polemik yang berkembang, Dudung justru mengajak semua pihak, termasuk Habib Rizieq, untuk bersama-sama menjaga ketenangan di tengah krisis global. Ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan nasional dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah. “Tapi artinya bahwa menurut saya bahwa Pak Rizieq, ya, sudah tualah, sudah sama-sama tua. Ya marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi,” ujarnya.

Menurut Dudung, sebagai seorang ulama, Habib Rizieq seharusnya menjadi figur yang meneduhkan, bukan sebaliknya. “Saya lihat bahasa-bahasanya tidak pernah berubah, bahasa-bahasa lama dengan sekarang itu ya. Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, ya,” katanya. Ia pun mengajak Habib Rizieq untuk berpikir jernih dan menghindari prasangka buruk.

“Berpikir jernih, matanya tidak pernah merendahkan orang lain, mulutnya tidak menjelekkan orang lain, hatinya juga dia tidak berprasangka buruk kepada orang lain, dan tangannya juga tidak dikotori dengan hal-hal yang tidak baik. Makanya jaga mata, jaga hati, dan jaga mulut,” pungkas Dudung.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar