Belu, NTT Suasana di Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan RI, pagi itu terasa berbeda. Bukan sekadar kuliah biasa, tapi ada semacam energi serius yang mengalir di ruang auditorium. Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI datang memberi kuliah umum. Tujuannya? Memperkuat pemahaman mahasiswa soal pengelolaan kawasan perbatasan. Soal masa depan Indonesia, katanya, bukan cuma soal Jakarta.
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI, Nurdin, membuka sesi dengan angka-angka yang mungkin bikin mahasiswa mengernyitkan dahi. Indonesia, kata dia, punya perbatasan laut dengan sepuluh negara. Perbatasan darat? Tiga negara. Itu artinya, tata kelola harus kuat. Harus terintegrasi. Dan tentu saja, berkelanjutan.
Tapi Nurdin tak cuma bicara soal peta dan garis batas. Ia menggeser perspektif. Menurut dia, membangun perbatasan bukan sekadar jaga kedaulatan. Lebih dari itu, ini soal perut rakyat.
“Tanpa ekonomi yang maju dan produktivitas yang tinggi, kesejahteraan akan lama kita capai. Karena itu, membangun perbatasan berarti membangun ekonomi rakyatnya,” ujarnya tegas, Rabu (29/4/2026).
Nurdin lalu mendorong mahasiswa untuk tak cuma duduk manis di kelas. Ia menyarankan mereka memanfaatkan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sebagai laboratorium belajar lapangan. Menurutnya, pergerakan orang dan barang di PLBN Terpadu terus meningkat. Itu, katanya, indikator kemajuan ekonomi sekaligus peluang emas. Apalagi PLBN Motaain dan Motamasin yang disebutnya sebagai sentra pertumbuhan ekonomi di NTT dan pemasok utama kebutuhan Timor Leste.
“Masa depan Indonesia bukan hanya Jakarta. Masa depan Indonesia berada di garis batas wilayah negara. Seperti semboyan BNPP, Kita Jaga Wilayahnya, Kita Sejahterakan Rakyatnya,” tegas Nurdin lagi, dengan nada yang hampir seperti orasi.
Di sisi lain, Kelompok Ahli BNPP RI, Hamidin, mengangkat soal geopolitik. Ia mengingatkan bahwa ketegangan global punya dampak langsung ke stabilitas ekonomi dan politik. Maka, pengelolaan perbatasan ke depan, kata dia, harus berorientasi pada penguatan ekonomi dan kerja sama bilateral. Bukan cuma soal pertahanan.
“Berbicara perbatasan masa depan tidak cukup hanya soal pertahanan dan keamanan. Itu penting, tetapi fokus utama adalah menghidupkan ekonomi dengan kerja sama yang setara,” ujar Hamidin.
Ia juga menyinggung soal manajemen perbatasan berbasis teknologi. Peran Border Liaison Officer (BLO) perlu diperkuat. Sinkronisasi antarlembaga juga harus jalan. Pokoknya, pengelolaan perbatasan harus efektif dan modern. Hamidin optimistis. Dalam satu dekade ke depan, katanya, kawasan perbatasan Indonesia bisa maju. Tak kalah dengan model pengelolaan perbatasan dunia.
“Pada akhirnya, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat perbatasan yang semakin sejahtera,” kata dia.
Lalu, ada Danyonarmed 12 Kostrad, Letkol Arm Dr. Erlan Wijatmoko. Ia menjelaskan peran Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur. Garda terdepan di perbatasan, katanya. Tugas mereka tak cuma jaga keamanan. Ada juga kegiatan teritorial. Bantu masyarakat. Wujud kehadiran negara, gitu.
Dekan Fakultas Vokasi Logistik Militer Unhan RI, Marsekal Muda Dr. Penny Radjendra, merespons positif. Ia berharap kuliah umum ini bisa memperkaya wawasan strategis mahasiswa. Menurutnya, materi yang disampaikan jadi bekal penting. Apalagi di bidang logistik dan pengelolaan wilayah perbatasan. Ia juga membuka peluang kerja sama lebih luas antara Unhan RI dan BNPP RI.
Sementara itu, Kepala Biro Keuangan, Umum, dan Humas BNPP RI, Belly Isnaeni, menambahkan bahwa lewat kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tak cuma paham peran BNPP. Tapi juga punya kepedulian. Semangat berkontribusi menjaga kedaulatan NKRI.
Kuliah umum di Politeknik Ben Mboi ini, pada akhirnya, jadi semacam ruang dialog strategis. BNPP, akademisi, dan generasi muda duduk bersama. Menanamkan kesadaran: kawasan perbatasan adalah beranda depan Indonesia. Dan dengan begitu, generasi muda diharapkan bisa jadi motor penggerak pembangunan perbatasan. Berdaulat. Maju. Sejahtera.
Artikel Terkait
Hakim Tegur Terdakwa Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS karena Melamun di Sidang
Polisi Periksa Sopir Taksi dan Masinis Usai Kecelakaan Maut di Perlintasan Bekasi, 16 Tewas
Prabowo Pastikan Danantara Lanjutkan Hilirisasi, Target 30 Proyek dan Serap 600 Ribu Tenaga Kerja
Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi di Cilacap, Pulang ke Jakarta Siang Ini