Minggu pagi di Bundaran HI, Jakarta, biasanya ramai oleh warga yang berolahraga atau sekadar jalan-jalan. Tapi kali ini, ada yang beda. Sekelompok pelajar menggelar kain putih panjang di dekat Monumen Selamat Datang. Mereka datang dengan satu misi: mengajak orang-orang ikut menandatangani petisi bertajuk "Jaga Damai Indonesia".
Suasana cukup santai, tapi serius. Kain putih itu perlahan dipenuhi tanda tangan dari warga yang kebetulan lewat. Ada yang baru selesai jogging, ada juga keluarga yang sedang menikmati akhir pekan. Mereka berhenti, mendengar penjelasan para pelajar, lalu ikut membubuhkan nama.
Aksi ini dimulai dengan jalan sehat keliling Bundaran HI. Begitu sampai di titik kumpul, mereka berhenti dan mulai mendekati warga. Bukan sekadar minta tanda tangan, mereka juga menjelaskan apa isi petisi itu dan kenapa hal ini penting.
Nah, para pelajar ini tergabung dalam komunitas bernama Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia, atau disingkat Pionir. Mereka datang dari berbagai sekolah di Jakarta. Tapi yang menarik, isu yang mereka angkat cukup beragam dari tawuran sampai program Makan Bergizi Gratis.
Nur Aira Adiasti, salah satu perwakilan pelajar, bilang begini: petisi ini pada dasarnya mengajak warga untuk tidak gampang terprovokasi. Apalagi sama kabar yang belum jelas kebenarannya. Menurut Aira, berita yang nggak terverifikasi itu bisa jadi alat pemecah belah.
"Kita ini menolak adanya provokator-provokator yang memecah belah persatuan Indonesia," kata Aira saat ditemui di lokasi.
Dia juga ngomongin soal tawuran. Kata Aira, sebagai pelajar, mereka cukup khawatir sama maraknya tawuran di Jakarta. Makanya, mereka nggak cuma diam. Mereka bikin konten video tentang bahaya tawuran, lengkap dengan penyebab dan akibatnya. Ada juga yang turun langsung buat survei ke lapangan.
"Dari hal kecil yang bisa kita lakukan itu dari membuat konten-konten video tentang bahaya tawuran, penyebab, akibatnya, dan edukasi seputar tawuran tersebut. Atau mungkin teman-teman dari kita bisa survei ke lapangan untuk menindaklanjuti kasus-kasus tersebut," jelasnya.
Di sisi lain, Aira juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat. Menurut dia, program ini masih punya banyak pekerjaan rumah. Pelaksanaannya di lapangan, kata Aira, sering memicu komentar miring bahkan provokasi.
"Isu-isu baru-baru ini tuh kan kayak yang lagi viral MBG, itu dari pihak SPPG-nya itu mungkin bermasalah. Sehingga memicu banyak kemarahan, akhirnya buzzer main, membuat saling serang dan tidak produktif," ucapnya.
Yang menarik, Aira menegaskan bahwa pelajar justru adalah pihak yang menerima langsung program itu. Jadi, menurut dia, mereka punya tanggung jawab untuk ikut menjaga. Bukan cuma menerima, tapi juga peduli dan kritis terhadap jalannya program.
"Karena kita juga sebagai pelajar yang menerima program itu, kita ingin sama-sama menjaga," kata dia.
Begitulah. Pagi itu, di tengah hiruk-pikuk CFD, sekelompok anak muda memilih untuk tidak sekadar jalan-jalan. Mereka menyuarakan kepedulian dengan cara yang sederhana, tapi nyata.
Artikel Terkait
Pemerintah Banten Luncurkan Tarif Rp 1 ke Baduy via DAMRI, Berlaku Akhir Pekan Selama Sebulan
Polisi Gerebek Daycare Ilegal di Jogja, 53 Anak Diduga Jadi Korban Penganiayaan
Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unej, Pelaku Terancam Dipecat
Menlu Iran Tiba di Oman Usai Perundingan Damai di Pakistan, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Islamabad