Pemerintah Indonesia, lewat Kementerian Kebudayaan, makin gencar memainkan peran dalam diplomasi budaya global. Salah satu langkah teranyar adalah partisipasi aktif di Sidang Executive Board ke-224 UNESCO di Paris. Ini bukan sekadar formalitas, lho. Momen ini juga jadi ajang penting buat menggalang dukungan internasional.
Soalnya, Indonesia tengah mencalonkan diri sebagai anggota Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO untuk periode 2026-2030. Sidang itu sendiri berlangsung di Kantor Pusat UNESCO, Paris.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang membuka acara sekaligus memaparkan langsung pencalonan Indonesia. Dia menjelaskan visi dan prioritas Indonesia di hadapan para delegasi.
"Melalui platform Living Heritage, Shared Future, komitmen Indonesia adalah memperkuat perlindungan warisan budaya tak benda dunia yang berbasis komunitas," ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).
Ia menambahkan, platform itu juga mendorong kerja sama yang lebih setara. Selain itu, memperluas akses terhadap dukungan internasional, terutama bagi negara-negara berkembang.
Acara ini cukup ramai, dihadiri sekitar 300 delegasi dari negara anggota dan sekretariat UNESCO. Suasananya terasa penting, karena ini jadi momentum bagi Indonesia untuk langsung berhadapan dengan mitra internasional. Bukan cuma pidato, ada juga pertunjukan Tari Pendet dan Gamelan yang ditampilkan.
"Kedua warisan budaya ini sudah diinskripsi sebagai warisan budaya takbenda dunia UNESCO," ungkapnya.
Lebih detail, Tari Pendet merupakan bagian dari Tiga Genre Tari Tradisional Bali yang diinskripsi tahun 2015. Sementara Gamelan, instrumen tradisional kita, menyusul diinskripsi pada tahun 2021.
Di sisi lain, sebagai bentuk pengembangan budaya yang lebih konkret, Fadli Zon juga mempresentasikan proposal pembentukan Asia-Pacific Center for Community-Based Safeguarding of Intangible Cultural Heritage. Rencananya, pusat ini akan berlokasi di Indonesia sebagai Category 2 Centre UNESCO.
Menurutnya, ini adalah kontribusi nyata Indonesia bagi kawasan Asia-Pasifik. Fokusnya pada penguatan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan pelestarian warisan budaya takbenda di kawasan. Indonesia, dengan kekayaan budaya takbenda yang luar biasa, kata dia, terus menunjukkan komitmen dalam perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya sebagai pilar pembangunan berkelanjutan.
"Momentum ini kita manfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan kebijakan kebudayaan global," tutupnya. "Sekaligus membangun komunikasi strategis dengan negara-negara anggota."
Dalam pertemuan bilateral itu, Fadli Zon didampingi sejumlah pejabat. Ada Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti. Lalu Direktur Diplomasi, Raden Usman Effendi, serta Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin.
Partisipasi aktif di UNESCO ini diharapkan bisa mendongkrak dukungan negara anggota terhadap pencalonan Indonesia. Lebih dari itu, ini juga menegaskan peran Indonesia sebagai mitra strategis dalam penguatan kebudayaan dunia. Pertemuan semacam ini, pada akhirnya, jadi ruang strategis untuk menegaskan komitmen Indonesia terhadap kerja sama multilateral di bidang kebudayaan.
Artikel Terkait
Penangkapan 7 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Jadi Alarm Krisis Ekologi dan Pencemaran Sungai
Polisi Selidiki Aksi Unik Percobaan Pencurian di Bogor, Pelaku Kunci Rumah dengan Payung
Kemendagri Dorong Daerah Kreatif Cari Pendanaan di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bareskrim Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Dugaan Pelecehan Seksual terhadap Lima Santri