JAKARTA – Akhirnya ada kepastian. Iran tetap boleh tampil di Piala Dunia 2026. Tapi, Amerika Serikat langsung pasang syarat yang cukup ketat. Soal siapa saja yang boleh masuk ke negara mereka, itu yang jadi sorotan utama.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, buru-buru meredam spekulasi. Katanya, negaranya sama sekali tidak melarang Timnas Iran ikut turnamen. Para atlet, menurut dia, tetap dipersilakan datang.
“Tidak ada satu pun dari Amerika Serikat yang mengatakan bahwa mereka (timnas Iran) tidak boleh datang,” ujar Rubio.
Tapi, begitu pernyataan itu keluar, ia langsung menambahkan sesuatu yang penting. Soal rombongan yang ikut serta.
“Masalah dengan Iran bukanlah atlet mereka. Itu adalah ketika mereka ingin membawa sejumlah orang bersama mereka, orang-orang yang punya ikatan dengan IRGC. Kami tidak bisa membiarkan mereka masuk, namun tidak demikian halnya dengan atlet (atlet boleh masuk),” tegasnya.
Syarat Ketat untuk Rombongan Tim
AS sudah lama menganggap Islamic Revolutionary Guard Corps sebagai ancaman serius. Makanya, siapa pun yang punya hubungan dengan organisasi itu bakal ditolak masuk. Gak pandang bulu.
“Mereka tidak bisa membawa sekelompok anggota teroris IRGC ke negara kami dan berpura-pura bahwa mereka adalah wartawan atau pelatih,” lanjut Rubio.
Pernyataan ini sekaligus menjawab keresahan yang sempat beredar. Banyak yang khawatir Iran bakal dilarang total. Ternyata tidak. Tapi ya itu tadi, ada batasan yang harus dipatuhi.
Sebelumnya, Iran bahkan sempat mengajukan permintaan agar pertandingan mereka dipindahkan ke Meksiko. Alasannya jelas, biar lebih aman dan jauh dari kerumitan visa. Tapi FIFA menolak usulan itu.
Wacana Ganti Iran dengan Italia Mengemuka
Di tengah situasi yang masih panas, muncul wacana yang cukup kontroversial. Dari lingkaran pemerintahan AS pula. Utusan khusus Presiden Donald Trump, Paolo Zampolli, mengusulkan agar Iran digantikan oleh Italia.
“Saya mengonfirmasi bahwa saya telah mengusulkan kepada Trump dan (Presiden FIFA Gianni) Infantino agar Italia menggantikan Iran di Piala Dunia. Saya orang Italia asli dan akan menjadi impian bagi saya untuk melihat Azzurri di turnamen yang diselenggarakan di AS. Dengan empat gelar juara, mereka memiliki prestasi yang cukup untuk membenarkan partisipasi mereka,” ujar Zampolli.
Usulan ini, kata beberapa sumber, terkait dengan dinamika hubungan politik AS-Italia. Termasuk ketegangan antara Trump dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni soal konflik di Iran. Tapi ya, sejauh ini baru sebatas wacana.
FIFA Tegas: Iran Tetap Peserta Resmi
Terlepas dari segala spekulasi dan tekanan politik, FIFA tetap pada pendiriannya. Presiden FIFA, Gianni Infantino, sudah angkat bicara. Iran tidak akan dicoret. Mereka tetap jadi peserta resmi.
Laporan dari media internasional juga menyebut hal serupa. FIFA tidak punya rencana untuk mengubah daftar peserta. Meski ada desakan dari sana-sini.
Jadwal Iran di fase grup pun sudah diatur. Mereka akan menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles. Lalu, melawan Mesir di Seattle. Semua masih sesuai rencana.
Kepastian di Tengah Ketidakpastian
Jadi, meski sempat diguncang spekulasi dan ketegangan geopolitik, akhirnya ada titik terang. Bagi Iran, ini jelas angin segar. Tim berjuluk Team Melli itu tetap bisa berlaga di panggung terbesar sepak bola dunia. Tapi ya, dengan sejumlah pembatasan yang harus dipatuhi.
Sekarang, fokusnya tinggal persiapan. Tim harus memastikan semua syarat dari tuan rumah terpenuhi. Tanpa hambatan. Semoga saja semuanya berjalan lancar.
Artikel Terkait
Trans7 Siarkan Langsung Balapan Veda Ega Pratama di Moto3 Spanyol 2026
PSG Siapkan Dana Tak Terbatas dan Gaji Selangit untuk Rebut Gabriel Magalhães dari Arsenal
Red Sparks Resmi Rekrut Zhong Hui Gantikan Megawati Hangestri
PSIS Semarang Tunjuk Kas Hartadi sebagai Pelatih Baru demi Selamatkan Tim dari Degradasi