Survei: 84,6% Publik Puas dengan Kinerja Prabowo, Harga Sembako Masih Jadi Keluhan

- Kamis, 23 April 2026 | 03:00 WIB
Survei: 84,6% Publik Puas dengan Kinerja Prabowo, Harga Sembako Masih Jadi Keluhan

Hasil survei terbaru dari Timur Barat Research Center (TBRC) menunjukkan, mayoritas publik memberi apresiasi untuk kinerja pemerintahan saat ini. Johanes Romeo, Direktur Eksekutif TBRC, yang merilis temuan itu, menyebut tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto mencapai angka yang cukup tinggi.

Lebih tepatnya, 84,6 persen warga menyatakan puas. Rinciannya, 37,7 persen merasa sangat puas, sementara 46,9 persen lainnya masuk kategori puas.

Di sisi lain, tentu saja ada yang kurang berkenan. Sekitar 6,8 persen responden menyatakan sangat tidak puas, dan 5,5 persen memilih tidak puas. Selebihnya, 3,1 persen memilih untuk tidak menjawab.

Lalu, apa yang mendasari kepuasan itu? Menurut Johanes, komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi menjadi salah satu poin penting. Alasan lain yang cukup kuat adalah keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM dan LPG bersubsidi, meski ada tekanan global akibat ketegangan di Iran.

"Sebanyak 82,6 persen masyarakat puas dengan kebijakan tersebut," kata Johanes.

Tak cuma itu, sejumlah program nyata di lapangan juga ikut berbicara. Kinerja Kepolisian yang dinilai membaik, lalu peluncuran program Sekolah Rakyat, dan kelanjutan penyaluran bantuan sosial, disebut turut menyumbang angka kepuasan tadi. Bahkan dalam isu sensitif seperti penegakan HAM, publik memberikan nilai positif.

"Begitu juga dalam hal kinerja penegakan Hak Asasi Manusia, sebanyak 77,3 persen masyarakat puas pada kinerja pemerintahan Prabowo," ujar Johanes.

Namun begitu, survei ini juga menangkap keluhan yang cukup signifikan. Sektor ekonomi masih menjadi ganjalan. Hampir separuh responden, tepatnya 49,2 persen, mengaku tidak puas dengan harga sembako yang masih terasa memberatkan.

Lebih memprihatinkan, mayoritas sekitar 57,6 persen mengatakan pendapatan keluarga mereka justru menurun. Situasi ini, menurut Johanes, menjadi tantangan serius bagi transformasi ekonomi negara.

"Dengan keadaan pendapatan ekonomi rumah tangga yang menurun, Indonesia gagal untuk keluar dari status berpendapatan rendah ke menengah," pungkas dia.

Survei nasional ini digelar dengan metode wawancara tatap muka, melibatkan 1.810 responden terpilih yang tersebar di 38 provinsi. Populasinya adalah warga Indonesia berusia di atas 17 tahun, dipilih secara acak bertingkat. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error penelitian ini diperkirakan sekitar 2,25 persen.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar