Kabar duka kembali datang dari Lebanon selatan. Seorang penjaga perdamaian Prancis, yang sebelumnya terluka dalam sebuah insiden, akhirnya meninggal dunia. Ia adalah korban kedua dari serangan yang sama yang terjadi akhir pekan lalu.
Presiden Prancis Emmanuel Macron sendiri yang mengonfirmasi berita ini pada Rabu (22/4/2026).
"Seorang penjaga perdamaian Prancis, yang terluka di Lebanon selatan pada hari Sabtu, telah meninggal dunia," ujar Macron.
Korban sebelumnya sempat berjuang untuk hidupnya, setelah mengalami luka-luka bersama rekannya, Florian Montorio. Montorio sendiri tewas di tempat kejadian. Serangan itu terjadi di desa Ghandouriyeh, wilayah yang kerap memanas. Menurut penilaian awal UNIFIL, serangan ini tampaknya disengaja dan kemungkinan besar dilakukan oleh aktor non-negara dengan Hizbullah sebagai tersangka utama.
"Seorang tentara Prancis kedua meninggal pada hari Rabu akibat luka-lukanya yang diderita dalam penyergapan akhir pekan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon yang dituduhkan kepada Hizbullah," lanjut Macron, menegaskan situasi yang makin suram.
Ini bukan insiden pertama. Baru beberapa hari sebelumnya, pasukan UNIFIL sudah berduka. Florian Montorio, tentara Prancis dari Resimen Insinyur Parasut ke-17, gugur seketika. Bukan cuma itu, tiga tentara lainnya juga terluka dalam insiden yang sama. Dua di antaranya disebut mengalami cedera serius.
Jadi, situasinya memang genting. Serangan terhadap pasukan PBB di wilayah itu seolah menjadi pengingar betapa rapuhnya gencatan senjata. Setiap korban jiwa dari pasukan penjaga perdamaian adalah pukulan bagi upaya menstabilkan kawasan yang sudah lama terpecah.
Artikel Terkait
Dua Mahasiswi Unsoed Laporkan Rekan ke Polisi Diduga Pelaku Kekerasan Seksual
Anggota DPR Usulkan Transaksi Batu Bara DMO Pakai Rupiah untuk Kurangi Risiko Negara
KPPU Apresiasi Perpres 100/2024, Desak Percepatan Amandemen UU Persaingan Usaha
Sekretaris Kabinet Tinjau Sekolah Rakyat, Tegaskan Komitmen Pemerataan Pendidikan