Pemerintah Pacu Proyek Gas Nasional, Temukan Cadangan Besar di Kaltim

- Selasa, 21 April 2026 | 08:00 WIB
Pemerintah Pacu Proyek Gas Nasional, Temukan Cadangan Besar di Kaltim

Jakarta - Langkah pemerintah untuk mendorong proyek gas nasional bakal lebih agresif. Regulasi yang dinilai menghambat akan dipangkas, sementara intervensi langsung di lapangan dibuka lebar. Tapi, ya itu, masalah klasik seperti perizinan yang berbelit, ketidakpastian proyek, dan infrastruktur yang timpang masih mengintai. Bisa-bisa rencana bagus di atas kertas mentok lagi di realisasi.

Semangat percepatan ini muncul seiring kabar gembira dari Kalimantan Timur. Di sana, ditemukan cadangan gas baru yang cukup besar. Menurut rencana, sumur baru ini bisa mulai menyumbang produksi nasional secara signifikan pada 2028 mendatang.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang membeberkan temuan itu. Asalnya dari wilayah kerja baru Sumur Geliga di Blok Ganal, yang dikelola oleh perusahaan energi asal Italia, Eni.

"Ini sangat besar," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Dia menjelaskan, dengan potensi tersebut, produksi Eni bisa dinaikkan drastis. "Dengan demikian, maka Eni pada 2028 itu bisa kita maksimalkan mencapai kurang lebih sekitar 2.000 MMscfd untuk gas. Sekarang produksinya kurang lebih sekitar 600 MMscfd sampai 700 MMscfd," paparnya.

Blok baru itu sendiri disebut punya potensi gas sekitar 5 triliun kaki kubik, plus kondensat kira-kira 300 juta barel. Targetnya, produksi gas akan naik bertahap hingga sekitar 3.000 MMscfd di tahun 2030. Untuk kondensat, ditargetkan 90.000 barel per hari pada 2028, lalu melonjak jadi 150.000 barel per hari setahun setelahnya.

Bahlil menegaskan, percepatan proyek gas sekarang jadi prioritas utama. Alasannya jelas: menjaga ketahanan energi nasional. Untuk itu, koordinasi dengan SKK Migas diperketat, bahkan wakil menteri akan turun tangan memberi asistensi teknis.

"Pada kondisi ini dibutuhkan survival mode. Tidak ada kata untuk memperlambat. Hanya ada satu kata, mempercepat," tegasnya.

Dia juga membuka ruang intervensi. Birokrasi yang lambat atau aturan yang janggal akan langsung ditangani. "Kalau ada aturan yang menghambat, kita percepat. Kalau yang susah, kita mencoba untuk mediasi. Kalau ada staf yang memperlambat, kita rumahkan," kata Bahlil blak-blakan.

Kolaborasi dengan BUMN energi seperti Pertamina, serta perusahaan internasional lain, juga akan didorong. Harapannya, proyek-proyek strategis bisa jalan lebih cepat dan produksi nasional terdongkrak.

Namun begitu, jalan menuju percepatan itu tidak mulus. Menurut praktisi migas Hadi Ismoyo, upaya serupa sebenarnya sudah sering coba dilakukan. Masalahnya, tantangan birokrasi dan koordinasi antarlembaga masih nyata.

Salah satu titik krusialnya adalah proses amdal. Hadi berharap proses ini bisa dioptimalkan agar tidak makan waktu terlalu lama.

"Soal amdal dan perizinan terkait masih jadi tantangan karena sering berjenjang dan butuh waktu. Kalau bisa, ke depannya ini dibuat paralel dan simultan," ujarnya.

Dia menilai Sumur Geliga punya nilai strategis tinggi. Lokasinya yang dekat dengan fasilitas eksisting di Geng North Hub memudahkan pengembangan.

"Geliga sangat strategis karena dekat sekali dengan fasilitas-fasilitas eksisting yang sudah established. Ini bisa langsung di tie-in ke Bontang LNG," jelas Hadi.

Investasi Hulu & Hilir Migas (2016-2025)

Tahun Hulu Migas (US$ miliar) Hilir Migas (US$ miliar) Total (US$ miliar) Pertumbuhan Total
201611,61,112,7-
201710,30,711,0-13,4%
201812,00,712,715,5%
201911,91,112,91,6%
202010,52,613,11,6%
202110,93,814,712,2%
202212,31,613,9-5,4%
202312,92,014,97,2%
202415,32,217,517,4%
202515,42,618,02,9%

Sumber: Kementerian ESDM

Tantangan yang Lebih Dalam

Di sisi lain, Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia mengingatkan soal persoalan struktural. Menurutnya, masalah utama ada di kepastian dan kecepatan. Lihat saja Blok Masela, penundaannya begitu lama dan membuat Indonesia kehilangan momen.

Langkah debottlenecking pemerintah dia nilai sudah tepat, karena mengakui ada hambatan di proses. Tapi, upaya itu harus lebih sistematis dan berkelanjutan, tidak sekadar seremonial.

Ada juga masalah geografis yang pelik. Cadangan gas banyak di timur, sementara konsumsi terbesar ada di barat. Jarak itu berarti biaya distribusi membengkak. Belum lagi waktu dari penemuan sampai produksi yang memang panjang.

"Cadangan itu tidak otomatis jadi manfaat kalau tidak bisa diproduksi dan disalurkan," kata Yusuf.

Dia juga menyinggung soal keseimbangan ekspor dan kebutuhan dalam negeri. Ekspor selama ini jadi penopang ekonomi proyek, tapi permintaan domestik diprediksi terus naik. Eksplorasi pun tak boleh dilupakan agar cadangan tidak habis.

Bisman Bhaktiar dari Pushep punya catatan lain. Dia bilang, selain mengejar temuan baru, pemerintah harus fokus memonetisasi lapangan yang sudah ada tapi belum optimal. Infrastruktur midstream seperti jaringan pipa juga perlu diperhatikan.

"Kebijakan harga gas domestik juga perlu diselaraskan agar tetap kompetitif bagi industri," tambah Bisman.

Gas, bagaimanapun, punya peluang besar. Emisinya lebih bersih, cadangan di dalam negeri masih ada. Bisa dipakai untuk industri, pembangkit listrik, bahkan transportasi. Gas bisa jadi jembatan yang realistis menuju energi terbarukan.

Tapi lagi-lagi, realitanya tak semudah itu. Infrastruktur distribusi belum merata, harganya fluktuatif, dan skemanya kerap kurang kompetitif. Yang paling krusial: tanpa pasokan yang stabil, semua rencana pemanfaatan itu bisa buyar.

"Tanpa jaminan pasokan yang stabil, pemanfaatan gas berisiko tidak berkelanjutan dan dapat mengganggu operasional sektor pengguna," pungkas Bisman.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar