Kediri - Udara di BRI Super League 2025/2026 terasa semakin pengap. Di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (19/4) kemarin, Malut United tak berkutik. Mereka tumbang dengan skor telak 1-4 di hadapan keganasan Bali United.
Ini adalah laga pekan ke-28. Menurut sejumlah saksi, pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Namun begitu, bagi Laskar Kie Raha, malam itu lebih terasa seperti sebuah ujian kesabaran.
Pelatih Malut United, Hendri Susilo, tak menampik kualitas laga. Dia bilang, pertandingannya memang berkelas.
Tapi nada bicaranya berubah. Ada kekecewaan yang jelas terasa.
“Pertandingan yang berkelas, tapi kami menjadi korban ketidakadilan malam ini,” ujar Hendri singkat, tanpa banyak basa-basi.
Dia menyoroti kepemimpinan wasit Aprisman Aranda. Di matanya, beberapa keputusan krusial justru menjadi bumerang bagi tim asuhannya. Malut seolah bermain dengan beban ganda: melawan lawan dan juga ketidakpastian. Di sisi lain, performa Bali United memang tak bisa diremehkan. Mereka tampil solid dan memanfaatkan setiap peluang dengan efisien.
Kekalahan ini tentu menjadi pukulan berat. Mendekati akhir musim, setiap poin sangat berharga. Suasana di tribun pendukung Malut pun terlihat muram. Mereka menyaksikan tim kesayangan terkapar di tanah Bali, menambah daftar luka di musim yang sudah panas ini.
Artikel Terkait
Buku Biografi Kebijakan Kikiek Kupas Kapolri Listyo Sigit Lewat Keputusan Genting
Iran Siap Kerahkan Semua Kemampuan Hadapi Ancaman AS di Selat Hormuz
PDIP Tak Terusik Klaim JK Soal Peran Besar Antar Jokowi ke Kursi Presiden
Remaja 16 Tahun Alami Kebutaan Permanen Usai Disiram Air Keras dalam Tawuran di Jakpus