Jusuf Kalla Klarifikasi Pernyataan Syahid dan Martir Usai Dilaporkan ke Polda

- Minggu, 19 April 2026 | 04:30 WIB
Jusuf Kalla Klarifikasi Pernyataan Syahid dan Martir Usai Dilaporkan ke Polda

Ceramah Jusuf Kalla di Masjid UGM awal Maret lalu tiba-tiba saja ramai diperbincangkan. Isunya? Pernyataan mantan Wapres itu soal makna "syahid". Video ceramahnya yang bertema perdamaian itu menyebar luas di pertengahan April, memantik pro-kontra yang tak kunjung reda.

Menanggapi hiruk-pikuk itu, JK akhirnya angkat bicara. Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu lalu, ia mencoba meluruskan maksud ucapannya.

"Saya berada di masjid dan jemaah tidak mengerti martir. Jadi, saya katakan, ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma bedanya caranya,"

begitu penjelasannya.

Ia bercerita, saat itu sedang membahas konflik bernuansa agama di masa lalu, seperti di Maluku dan Poso. Konteksnya adalah bagaimana masing-masing pihak, baik yang beragama Islam maupun Kristen, memiliki konsep sendiri tentang mati demi membela keyakinan. Dalam Islam disebut syahid, sementara dalam Kristen dikenal sebagai martir.

"Saya ulangi lagi, saya pakai kata syahid, bukan martir karena saya di masjid,"

tegasnya lagi. Intinya, JK bersikukuh bahwa ia tidak sedang membahas dogma agama secara mendalam. Yang ia soroti adalah realitas psikologis saat konflik terjadi.

"Jadi, bukan saya bicara dogma agama, bukan. Saya bicara kejadian pada waktu itu. Kejadian pada waktu itu, semua merasa masuk surga,"

ujar JK.

Untuk memperkuat poinnya, ia pun merujuk pada cuplikan video konflik yang ditayangkan selama konferensi pers. Ia menggambarkan suasana sebelum para pemuda terjun ke medan pertikaian.

"Tadi lihat, sebelum mereka, pemuda-pemuda ini pergi perang, semua didoakan. Kau pergi berdoa, kau habisi musuhmu. Islam juga begitu, didoakan oleh para ustaz, kau pergi,"

paparnya.

Namun begitu, klarifikasi itu rupanya belum cukup meredam gelombang protes. DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) telah melaporkan JK ke Polda Metro Jaya pada 12 April lalu. Laporan itu menyoroti pernyataannya tentang mati syahid yang dinilai menyinggung.

Ceramah yang awalnya bertajuk "Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar" itu kini terperangkap dalam debat yang sama sekali berbeda. Dari wacana geopolitik tingkat tinggi, berubah jadi perbincangan panas tentang sensitivitas beragama.

Perkara ini masih berlanjut. Menunggu tanggapan lebih jauh dari pihak berwajib dan tentu saja, dari publik yang terus mengamati.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar