Qatar Tembak Jatuh Pesawat Iran dan Hentikan Produksi LNG di Tengah Eskalasi

- Selasa, 03 Maret 2026 | 06:05 WIB
Qatar Tembak Jatuh Pesawat Iran dan Hentikan Produksi LNG di Tengah Eskalasi

Untuk pertama kalinya sejak krisis meletup, Qatar melancarkan serangan. Kementerian Pertahanan negara itu mengumumkan telah menembak jatuh dua pesawat pembom yang datang dari Iran. Tak hanya itu, produksi gas alam cair (LNG) mereka pun terpaksa dihentikan. Langkah ini terjadi di tengah eskalasi serangan balasan Teheran yang sebelumnya menyasar pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Menurut sejumlah laporan, situasi justru semakin panas. Teheran ternyata memperluas target serangannya. Kini, fasilitas-fasilitas minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga jadi sasaran. Krisis di Teluk ini benar-benar meninggi, dan dampaknya mulai terasa global.

“Angkatan Udara Emir Qatar berhasil menembak jatuh dua pesawat (Su-24) yang datang dari Republik Islam Iran,”

Begitu bunyi pernyataan resmi kementerian. Mereka tidak menyebutkan apa yang terjadi dengan awak pesawat Sukhoi Su-24 itu. Serangan balasan Iran sebelumnya memang ganas menghantam pelabuhan, bandara, hingga hotel dan situs militer di berbagai penjuru wilayah kaya minyak yang selama ini jadi sekutu setia Washington.

Namun begitu, ketika serangan mulai merambah ke sektor energi, guncangannya langsung terasa. QatarEnergy, raksasa eksportir LNG dunia, tak punya pilihan selain menangguhkan produksi. Penyebabnya? Serangan drone di dua lokasi fasilitas mereka.

Reaksi pasar pun tak terelakkan. Harga gas alam di Eropa melonjak drastis, lebih dari 50 persen! Sementara harga minyak juga ikut naik hampir sembilan persen. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi jelas membuat semua orang panik.

Di sisi lain, militer negara-negara Teluk sejauh ini lebih fokus pada pertahanan. Mereka sibuk mencegat ratusan rudal dan drone yang diluncurkan Iran sebuah pembalasan atas serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka. Perang di udara ini, rupanya, belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar