Jusuf Kalla Bantah Tuduhan Penistaan Agama, Klaim Ceramahnya Dipotong dan Disalahartikan

- Minggu, 19 April 2026 | 00:30 WIB
Jusuf Kalla Bantah Tuduhan Penistaan Agama, Klaim Ceramahnya Dipotong dan Disalahartikan

Jusuf Kalla tampak geram. Mantan Wakil Presiden itu merasa difitnah habis-habisan, bahkan sampai dilaporkan ke pihak berwajih dengan tuduhan penistaan agama. Padahal, seperti banyak yang tahu, JK justru punya rekam jejak panjang dalam mendamaikan konflik bernuansa agama, seperti di Maluku dulu.

"Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak. Tentang kenapa mereka saling membunuh?"

Itu penegasannya kepada wartawan, Sabtu lalu. Ia merasa ceramahnya di Masjid UGM sudah jelas konteksnya: soal perdamaian. Tema itu pula yang sengaja diangkat. Menurut JK, perdamaian adalah titik akhir dari segala pertikaian.

Dalam ceramahnya, ia membeberkan berbagai contoh konflik. Mulai dari skala global, perang di Eropa, sampai yang terjadi di dalam negeri. Konflik bisa muncul karena banyak hal. Ideologi, perebutan wilayah, persoalan ekonomi, dan ya, tak bisa dimungkiri, juga karena agama. Seperti yang pernah melanda Maluku puluhan tahun silam.

"Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena wilayah kayak Tim-Tim, ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu. Kemudian satu menit saja, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso," ujarnya.

Nah, di sinilah masalahnya. Menurut JK, bagian ceramahnya yang menyinggung isu agama itu dipotong dan disalahartikan. Ia dituduh menistakan agama, terutama terkait penggunaan istilah 'syahid' dalam penjelasannya. Padahal, maksudnya sama sekali bukan begitu.

"Syahid dan martir hampir sama (artinya). Cuma bedanya caranya. Kalau syahid semua sama, mati karena membela agama, martir juga begitu, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja. Tapi karena saya di masjid maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jamaah tidak tahu," jelasnya.

Istilah itu ia gunakan untuk menerangkan bagaimana agama kerap dijadikan isu dalam konflik, seperti di Maluku dulu. Konflik yang, sayangnya, menelan korban jiwa hingga ribuan orang.

Lebih jauh JK memaparkan, penggunaan kata 'syahid' itu ia ambil berdasarkan pendapat masyarakat yang terlibat konflik kala itu. Konteksnya sangat spesifik, terbatas pada persepsi kelompok yang bertikai di Ambon dan Poso saat itu, bukan sebagai pernyataan umum tentang Islam atau Kristen.

"Artinya, orang Islam dan orang Kristen di tempat itu, bukan Islam keseluruhan. Islam-Kristen di tempat itu, di Ambon itu, di Poso itu berpendapat mati dan menewaskan orang mati atau menewaskan itu syahid. Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak," paparnya tegas.

Setelah menyebut istilah itu, lanjutnya, justru ia menjelaskan cara menyelesaikan konflik. Yakni dengan mengumpulkan pihak-pihak yang bertikai. Bahkan dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa mereka yang mengira mati syahid dalam konflik justru bisa terancam neraka karena melanggar ajaran agama.

"Karena itu saya selesaikan ini dengan satu kata, rapat umum, saya undang, kumpulkan di lapangan orang-orang yang berkelahi ini. Bahwa kalian masuk neraka karena tidak ada ajaran Kristen dan ajaran Islam yang mengatakan saling membunuh saudaranya, itu bukan syahid," tuturnya.

Jadi, begitulah kira-kira. JK merasa seluruh arah pembicaraannya disalahtafsirkan. Ia yang dikenal sebagai pendamai justru dituduh melakukan hal sebaliknya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar