JK Bantah Tuduhan Penistaan Agama, Tegaskan Ceramahnya Ajakan Berdamai

- Sabtu, 18 April 2026 | 18:45 WIB
JK Bantah Tuduhan Penistaan Agama, Tegaskan Ceramahnya Ajakan Berdamai

Di ruang konferensinya di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026) lalu, Jusuf Kalla terlihat tenang meski polemik mengelilinginya. Mantan Wakil Presiden dua periode itu dengan tegas membantah segala tuduhan berniat menista agama. Menurutnya, inti ceramahnya di UGM justru sebaliknya: sebuah ajakan untuk berdamai.

"Saya jelaskan tentang apa itu perdamaian. Perdamaian itu adalah akhir daripada konflik. Apa itu konflik? Akhir perdamaian," ujar JK memulai penjelasannya.

Ia kemudian melanjutkan, "Kemudian satu dua menit, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso."

Bagian singkat inilah, hanya satu hingga dua menit dari keseluruhan paparan, yang kini jadi sorotan dan dipersoalkan banyak pihak. JK merasa pesannya disalahtafsirkan. "Saya tidak bicara tentang dogma agama," tegasnya. "Saya bicara kejadian konflik, bagaimana orang menggunakan agama untuk berperang."

Dari sudut pandangnya, itulah realitas pahit yang terjadi kala itu. Dalam konflik berdarah di Poso dan Ambon, banyak pihak merasa tindakannya dibenarkan oleh agama. Persepsi semacam itu, menurut JK, justru jadi bahan bakar yang memperkeruh situasi hingga merenggut ribuan nyawa.

"Sekitar 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun. Itu akibat konflik Ambon-Poso," ucapnya dengan nada berat.

Namun begitu, ia menegaskan poin krusialnya: baik Islam maupun Kristen sama-sama tidak mengajarkan kekerasan. Konflik tersebut, baginya, adalah bentuk penyimpangan. "Tidak ada ajaran agama yang membenarkan saling membunuh. Itu yang saya sampaikan," tukas JK.

Lebih dari sekadar teori, JK juga bercerita tentang pengalaman personalnya turun ke lapangan. Ia mengaku pernah masuk ke zona konflik tanpa pengawalan memadai. "Saya pertaruhkan jiwa saya untuk mendamaikan," kenangnya.

Di sisi lain, muncul dukungan dari tokoh yang memahami langsung konflik tersebut. John Ruhulessin, tokoh agama dari Maluku, memberikan pandangannya melalui sebuah pernyataan video.

"Pak JK melihat fakta sosiologis bahwa ada upaya menggunakan agama sebagai legitimasi untuk berperang," ujar John.

Ia menilai pernyataan JK harus dilihat dalam bingkai konteks saat itu, bukan sebagai penistaan. Menurut John, JK sama sekali tidak bermaksud menyinggung ajaran agama tertentu, melainkan menggambarkan kondisi nyata yang sempat terjadi.

Polemik ini sendiri berawal dari viralnya video ceramah JK yang membahas soal 'mati syahid'. Tak lama setelahnya, ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Laporan dengan nomor LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA itu resmi diterima polisi pada Minggu (12/4) malam.

Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, yang hadir mewakili sekitar 19 lembaga, menyatakan alasannya. Ia merasa pernyataan JK dalam video viral itu telah menyakiti hati umat Kristen karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran mereka.

Laporan itu kini telah berjalan. Sementara JK tetap pada pendiriannya: pidatonya adalah tentang perdamaian, bukan perpecahan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar