“Semoga pada akhirnya dapat terbit sanksi yang adil dan setegas-tegasnya,” harapnya.
Tak Hanya Mahasiswi, Dosen Perempuan Jadi Sasaran
Yang membuat kasus ini makin parah, korban ternyata bukan cuma mahasiswi. Belakangan terungkap, beberapa nama dosen perempuan juga ikut menjadi bahan obrolan tak senonoh di grup tersebut.
“Saya pun begitu mendengar, begitu melihat chat, oh nama saya (juga) ada di situ,”
kata salah satu dosen dengan nada kecewa dalam forum itu.
Dekan FHUI, Parulian Paidi Aritonang, sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan keras. Ia menegaskan fakultas sedang melakukan penelusuran dan verifikasi yang serius. Semua proses dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan tentu saja, keadilan.
Luka yang Tak Terlihat: Dampak Psikologis pada Korban
Lalu, bagaimana dampak sebenarnya dari pelecehan seperti ini? Menurut psikiater dr. Lahargo Kembaren, dampaknya bisa sangat berat, meski terjadi di ruang digital.
“Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan dan perlakuan yang dialami, tetapi oleh makna pengalaman traumatis yang dirasakan korban,” jelasnya.
Ia menegaskan, pelecehan verbal atau digital bisa menghancurkan rasa aman dan harga diri korban. Mereka merasa direndahkan, dipermalukan, dan dijadikan objek. Meski tak ada bekas fisik, lukanya justru di dalam.
“Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem, sense of safety, trust terhadap lingkungan sosial,” lanjut dr. Lahargo.
Efeknya bisa berkepanjangan. Korban bisa terus mengulang percakapan menyakitkan itu dalam pikirannya. Bahkan, dalam kasus tertentu, ini bisa memicu PTSD atau gangguan stres pascatrauma. Ringkasnya, dampaknya nyata dan dalam.
Artikel Terkait
Banjir Landa 16 Kecamatan di Bandar Lampung, Satu Warga Meninggal Dunia
Korban Anak 7 Tahun Selamat dari Kecelakaan Maut di Garut yang Tewaskan Tiga Orang
AHY Tekankan Pentingnya Infrastruktur dan Kepemimpinan dalam Audiensi dengan Pelajar SMA
Komplotan Bersenjata Api Bobol Motor di Parkir RSIA Duren Sawit