“Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan,”
Ujar Vance dengan nada datar kepada para wartawan usai perundingan.
Namun begitu, ia mencoba melihat sisi positif. Diskusi alot itu dinilainya masih memberikan kemajuan pada beberapa isu penting. Pemerintah AS juga masih membuka peluang untuk dialog lanjutan, meski mengakui perbedaan mendasar dengan Teheran masih sangat lebar.
Di sisi lain, hambatan utamanya klasik. AS mendesak Iran menghentikan program nuklirnya secara permanen. Sementara itu, Iran tampaknya masih ingin mempertahankan sebagian kemampuan pengayaan uraniumnya. Jarak yang sulit dijembati.
Semua ini terjadi di tengah panorama Timur Tengah yang terus memanas. Ketegangan geopolitik meningkat pesat pasca konflik dan aksi militer yang melibatkan AS, Iran, serta sekutu-sekutunya dalam beberapa bulan terakhir. Suasana yang jauh dari ideal untuk berdiplomasi.
Nah, harapan Washington sekarang bertumpu pada tekanan diplomatik dan ekonomi. Mereka berharap dua hal itu bisa mendorong Iran kembali ke meja perundingan, dengan kemauan politik yang lebih besar. Tujuannya tetap satu: kesepakatan komprehensif. Tapi kapan itu terwujud? Itu masih jadi tanda tanya besar.
Artikel Terkait
Gubernur Bobby Nasution Geram Proyek Tanggul Mangkrak dan Bantuan Lambat di Tapanuli Tengah
Kemensos Turun Langsung Jemput Calon Siswa Sekolah Rakyat 2026
Banjir Rendam SD di Klaten, Proses Belajar Dialihkan ke Rumah
Wakil Presiden Iran Sebut Gedung Putih Jadi Cabang Pelapor Israel