Wakil Presiden Iran Sebut Gedung Putih Jadi Cabang Pelapor Israel

- Rabu, 15 April 2026 | 10:55 WIB
Wakil Presiden Iran Sebut Gedung Putih Jadi Cabang Pelapor Israel

Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, punya kritik pedas untuk Gedung Putih. Lewat sebuah unggahan di platform X, dia menyebut pemerintah AS sudah kehilangan kemandiriannya dalam politik luar negeri. Menurutnya, sekarang ini Gedung Putih cuma jadi "cabang pelapor" buat Israel. Pernyataan keras itu dia sampaikan Selasa lalu.

Latar belakangnya adalah komentar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Sehari sebelumnya, Netanyahu mengaku mendapat laporan dari Wakil Presiden AS, JD Vance, usai sang wapres pulang dari Islamabad. Netanyahu bahkan bilang, Vance melaporkan padanya "setiap hari."

Aref langsung menanggapi. "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang pejabat senior pemerintah memberikan 'briefing harian' kepada kepala negara lain!" tulisnya, seperti dikutip media Iran, Press TV.

Dia kemudian melanjutkan dengan nada bertanya. "Masalahnya bukan kami; ini soal penghinaan struktural. Apa rakyat Amerika sadar kalau Gedung Putih sekarang cuma jadi 'cabang pelapor' untuk rezim lain?"

Sebenarnya, klaim Netanyahu itu sendiri diungkapkan dalam rapat kabinet pada 13 April. Dia bilang Vance memberinya informasi terperinci soal negosiasi dengan Iran, sebuah rutinitas harian dari pemerintahan AS saat ini.

Nah, kabar tentang "briefing harian" ini langsung bikin panas. Banyak komentator politik, dari berbagai spektrum, ikut bersuara. Intinya, mereka melihat ini sebagai tanda bahwa Israel-lah yang memegang kendali. Situasi ini dinilai aneh, mengingat AS dan Iran sendiri sedang berunding untuk cari solusi permanen atas perang.

Negosiasi antara kedua negara itu sendiri baru saja mentok. Setelah 21 jam pembicaraan maraton di Islamabad, Pakistan, perundingan yang berakhir tanggal 12 April itu gagal mencapai kata sepakat.

JD Vance sendiri mengonfirmasi kegagalan itu. Dalam konferensi pers singkat, dia cuma menyatakan AS belum berhasil capai kesepakatan dengan Iran usai negosiasi di Pakistan. Tidak banyak penjelasan lebih lanjut.

Jadi, situasinya sekarang seperti ini: perundingan buntu, sementara pernyataan Netanyahu malah memantik gelombang kecaman baru terhadap peran Amerika. Kritik dari Iran itu mungkin terdengar keras, tapi jelas mencerminkan ketegangan yang makin menjadi-jadi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar