"Jadi memang kalau kita lihat kenapa warga negara Tiongkok itu banyak, karena memang TKA-nya, tenaga kerja asingnya lebih besar," katanya.
Logikanya cukup jelas. Semakin banyak populasi suatu kelompok di suatu tempat, potensi pelanggarannya pun secara statistik akan ikut membesar. Itu hukumannya.
"Jadi potensi untuk melakukan pelanggaran tentunya lebih besar dibanding warga negara yang lain," ujar Hendarsam. "Makin banyak warga negara TKA yang masuk, ya kan, maka potensi jumlah dari segi kualitatifnya pasti lebih besar dibanding yang lain."
Singkatnya, angka 183 itu bukan fenomena yang terisolasi. Ia adalah cerminan dari sebuah tren yang lebih luas, di mana besarnya arus kedatangan tenaga kerja asing dari suatu negara kerap berbanding lurus dengan temuan pelanggarannya.
Artikel Terkait
Kemensos Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa Flores Timur
Oknum Pimpinan Satpol PP Bogor Gadaikan SK Anggota, Tunjangan Tak Cair 7 Bulan
Anwar Usman Pamit dari MK: Hakim Tak Bisa Cari Popularitas, Setiap Putusan Bisa Lahirkan Musuh
Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Lampaui 2.000 Jiwa