Jakarta – Gempa bumi yang mengguncang Flores Timur, NTT, pada Rabu pekan lalu, langsung direspons oleh pemerintah. Kementerian Sosial tak lama kemudian bergerak menyalurkan bantuan logistik untuk warga yang terdampak. Tujuannya jelas: mendukung penanganan darurat di lokasi bencana.
Menurut Masryani Mansyur, Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemensos, langkah ini diambil atas instruksi langsung Mensos. "Intinya, respons harus cepat. Korban tidak bisa menunggu lama," katanya.
Bantuan itu sendiri berangkat dari Gudang Sentra Efata di Kupang, Senin (13/4/2026), menuju Dinas Sosial setempat. Gempa bermagnitudo 4,7 itu terjadi sekitar pukul 23.17 WIB, dengan pusat hanya 22 kilometer tenggara Larantuka dan kedalaman dangkal, 10 kilometer.
Lalu, apa saja bantuan yang dikirim? Ada ratusan paket makanan, mulai dari yang siap saji hingga khusus untuk anak-anak. Tak cuma itu, Kemensos juga mengirimkan perlengkapan tidur seperti kasur dan selimut, masing-masing 100 buah.
Untuk menunjang kebutuhan sandang, tersedia puluhan paket family kit serta pakaian untuk anak dan dewasa. Yang tak kalah penting, sebanyak 100 tenda gulung dan dua unit tenda serbaguna ikut dikirim untuk tempat berteduh warga.
Dampak gempa ternyata cukup serius. Data sementara mencatat, sedikitnya 1.309 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka berasal dari sejumlah desa seperti Terong, Lamahala Jaya, Motonwutun, Watobuku, Dawataa, dan beberapa wilayah lainnya di sekitar Waiwerang Kota.
Di lapangan, upaya penanganan sudah berjalan. Tenda-tenda darurat dan keluarga didirikan di titik-titik yang dekat dengan permukiman, tentu saja di area terbuka yang dianggap aman dari ancaman susulan atau longsor.
Selain distribusi logistik, tim gabungan yang turun juga melakukan asesmen dan pendataan. Mereka mengevaluasi kerusakan rumah, fasilitas umum, serta kebutuhan paling mendesak yang dirasakan masyarakat. Layanan kesehatan juga disiapkan untuk menangani korban luka ringan dan memantau kondisi pengungsi.
Namun begitu, pemulihan bukan cuma soal fisik. Bagi anak-anak yang masih trauma karena guncangan dan gempa susulan, kegiatan trauma healing pun diberikan.
Masryani menambahkan, kerja sama di lapangan melibatkan banyak pihak. "Dinas terkait, BPBD, TNI, dan Polri semua terlibat. Mereka bahu-membahu mendirikan tenda, menyalurkan bantuan, dan memantau situasi," ujarnya.
Meski kondisi mulai terkendali, jalan menuju pemulihan masih panjang. "Butuh waktu untuk perbaikan rumah, apalagi pemulihan psikologis warga. Itu proses yang tidak instan," tutup Masryani.
Penulis: Lidya Thalia.S
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Fadli Zon Ajak Masyarakat Telusuri Sejarah Bangsa Lewat Arsip Filateli
Pemprov DKI Bersihkan Badan Tugu Monas Selama Enam Bulan Demi Perawatan Berkala
Hari Lahir Pancasila: Refleksi Krisis Makna Bernegara di Tengah Korupsi, Intoleransi, dan Melemahnya Etika Publik
BGN Suspensi 8.182 Satuan Gizi Gratis karena Menu Picu Diare hingga Mark Up Anggaran