Rentetan serangan Israel ke Lebanon telah memakan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Menurut data resmi yang dirilis Kementerian Kesehatan Lebanon, korban tewas telah mencapai 2.089 orang sejak awal Maret lalu. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan ribuan nyawa yang hilang begitu saja.
Di sisi lain, jumlah korban luka-luka jauh lebih tinggi. Otoritas setempat menyebutkan, lebih dari enam ribu orang harus menderita akibat luka-luka. "Setidaknya 6.762 orang lainnya terluka," jelas pernyataan resmi mereka. Suara itu terdengar berat, menggambarkan betapa parah situasi di lapangan.
Menurut sejumlah saksi dan laporan dari Al Jazeera, serangan besar-besaran Israel ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Justru, intensitasnya masih terus berlangsung. Koresponden di lapangan melaporkan, dalam satu jam terakhir saja, serangan terjadi di berbagai titik yang berbeda. Rasanya, tiada henti.
Kota Sahmar di Lembah Bekaa, wilayah timur Lebanon, menjadi sasaran serangan udara. Tak hanya itu, pesawat tak berawak Israel juga menghantam beberapa kota di selatan, seperti Hanawiya, Al-Shahabiya, dan Sayr al-Gharbiya. Serangan artileri pun turut mengguncang kota Bint Jbeil, yang juga terletak di Lebanon selatan. Situasinya benar-benar kacau.
Dari data korban hingga laporan serangan yang terus berdatangan, gambaran yang muncul sangat suram. Lebanon sekali lagi terjebak dalam gelombang kekerasan yang menghancurkan, dengan warga sipil yang selalu menjadi pihak paling menderita.
Artikel Terkait
Kemensos Gandeng Perusahaan Jepang Siapkan Lulusan Sekolah Rakyat Jadi Caregiver
AS dan Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Jadi Kemitraan Utama
Prabowo dan Putin Sepakati Percepatan Kerja Sama Strategis di Moskow
Kemensos Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa Flores Timur