Gelombang Baru di Selat Hormuz
Pemicu ketegangan kali ini datang dari rencana AS untuk memblokade aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Militer AS melalui US Central Command menyatakan blokade terhadap kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran akan mulai berlaku pada 13 April.
Langkah Trump ini langsung mendapat reaksi. Islamic Revolutionary Guard Corps memberi peringatan bahwa kehadiran kapal militer AS di sekitar selat itu bisa dianggap melanggar gencatan senjata. Trump juga kembali melemparkan ancaman, kali ini sasaranannya infrastruktur energi Iran jika kesepakatan damai tak kunjung tercapai.
Dampaknya langsung terasa. Pasar energi global pun gempar. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Brent sempat naik lebih dari 7% mendekati US$102 per barel, sementara minyak mentah AS meroket sekitar 8% ke level di atas US$104.
Wajar saja pasar bereaksi kuat. Selat Hormuz bukan jalur sembarangan. Sekitar seperlima pasokan minyak global termasuk dari raksasa eksportir seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Iran sendiri harus melewati selat sempit yang strategis ini setiap harinya. Blokade di sini berarti mengganggu urat nadi energi dunia.
Artikel Terkait
Dekan FH UI Buka Suara Soal Percakapan Diduga Melecehkan Perempuan
DPR Kumpulkan Masukan untuk Revisi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan
Paus Leo XIV Tanggapi Kritik Trump dengan Sikap Tenang dan Seruan Damai
95 Tewas dalam Tiga Hari Pertama Perayaan Songkran di Thailand